Tampilkan postingan dengan label KARYA TULIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARYA TULIS. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 18, 2013

PERLUKAH BELAJAR

Saya tuliskan, bagian dari pengajaran
Semoga bermanfaat


JOKOWiN
Oktober 2013



Rabu, Agustus 21, 2013

E-Learning, Bisakah kita mengoptimalkannya ?

1.    Pendahuluan
Sejalan dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin melaju dengan pesat, maka kebutuhan tentang konsep mekanisme belajar mengajar dalam bidang pendidikan berbasis Teknologi Informasi (TI) menjadi hal yang sangat penting.
Banyak konsep yang telah dikembangkan, salah satunya adalah Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) yang merupakan salah satu cara dalam proses belajar mengajar, dimana pembelajaran jarak jauh (distance Learning) ini memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan Internet. Atau E-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet (Rosenberg, 2009).
Dengan adanya E-learning, sangat dimungkinkan peserta didik untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas.
E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan dunia teknologiinformasi dan komunikasi. 
Bahan-bahan pembelajaran yang digunakan, biasanya diakses melalui sebuah jaringan, dan berasal dari banyak sumber. Sumber-sumber tersebut bisa berasal dari website, internet, intranet, CD-ROM, maupun dari DVD.
Peserta didik dapat mengakses internet melalui fasilitas kabel atau modem di jaringan komunikasi baik telpon atau handphone (HP). Cara menggunakan E-learning sebagai metode pembelajaran sebenarnya tidak sulit karena melihat sudah banyak peserta didik yang memiliki akun jejaring social facebook atau twitter. 
Konsep E-learning ini telah merubah terjadinya proses transformasi pendidikan yang semula dalam bentuk konvensional ke dalam bentuk digitalisasi, baik untuk isi materinya maupun sistem yang diterapkannya.
Dengan E-learning diharapkan mampu untuk mempercepat proses transfer pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik yang membutuhkannya dengan bantuan Teknologi Informasi secara cepat, efisien, dan fleksibel tanpa mengurangi esensi pembelajaran yang ada di kelas konvensional. (Verduin, J.R. & Clark, 2011).

2.    Perkembangan E-learning
Pembelajaran E-learning mempunyai sejarah yang sangat panjang. Menurut Wikipedia, pertama kali E-learning diperkenalkan oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO.
Perjalanan E-learning dari masa ke masa, meliputi :
a.    1990, era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi  e-learning yang dijalankan dengan PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) dalam format mov, mpeg-1 atau avi.
b.    1994, sejalan dengan diterimanya CBT oleh masyarakat, CBT mulai muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
c.    1997, munculnya LMS (Learning Management System). Sejalan dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan masyarakat akan informasi global yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai suatu kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah operasional antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
d.    1999, sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi E-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. Dalam perkembangannya, LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta memiliki penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar dan berukuran kecil.

3.    Elemen E-learning
Definisi E-learning memiliki beberapa elemen tentang apa, bagaimana, dan mengapa dari E-learning (Moore, M.G. & Kearsley, 2010).
a.    Apa; E-learning memasukkan isi, yaitu informasi, dan metode instruksional, yaitu teknik, yang membantu orang mempelajari isi bahan ajar.
b.    Bagaimana; E-learning didistribusikan melalui komputer dalam bentuk kalimat dan gambar. Pendistribusiannya dapat dalam bentuk asynchronous yang didesain untuk belajar secara individu dan dalam synchronous yang didesain dengan bimbingan dari instruktur secara langsung.
c.    Mengapa; E-learning ditujukan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajarnya atau melakukan pekerjaannya.

4.    Tim E-learning
E-learning proses pembelajarannya memang diberikan melalui perangkat komputer (Willis, B, 2012). Tetapi dalam implementasi agar semua bisa berhasil dengan prima, E-learning telah disiapkan, ditunjang, dan dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidangnya masing-masing, yaitu:

  • Subject Matter Expert (SME) atau narasumber dari pelatihan yang disampaikan
  •  Instructional Designer (ID), bertugas secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi E-learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
  •  Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
  •  Learning Management System (LMS). Ahli dibidang LMS ini bertugas mengelola sistem di website dan mengatur lalu lintas interaksi antara Pendidik dengan peserta didik, antar peserta didik dengan peserta didik lainnya.

5.     Manfaat E-learning
Terdapat beberapa manfaat E-learning yang bisa dikaji, antara lain

a.    Manfaat E-learning secara umum
  • Fleksibel, peserta didik dapat mengakses untuk belajar dari konten pembelajaran ini kapan saja dan dimana saja
  • Bertambahnya interaksi pembelajaran antara Pendidik dengan peserta didik
  • Menjangkau peserta didik dalam cakupan letak geografis yang sangat luas
  • Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi
  • Lebih menghemat biaya dan waktu.
  • Standar materi terjamin dengan baik.
  • Kuota peserta tidak terbatas.
  • Materi dengan penjelasannya dapat divisualisasikan dengan animasi yang interaktif.

b.    Manfaat E-learning bagi peserta didik
  • Fleksibilitas belajar yang tinggi, peserta didik dapat mengakses bahan pembelajaran setiap saat dan berulang-ulang.
  • Kemudahan mengakses materi, mendownload, mengerjakan soal, mendapatkan jawaban soal, melihat hasil ulangan atau ujian berupa nilai dan penjelasan soal yang salah.
  • Interaksi dengan sumber belajar dapat dilakukan kapan saja dan dari mana saja, serta tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada pendidik begitu selesai dikerjakan. 
  • Memungkinkan untuk tanya jawab langsung dengan pendidik atau teman diskusi melalui fasilitas chatting maupun email tidak dibatasi waktu dan tempat.
  • Melatih pembelajaran secara mandiri, artinya peserta didik dapat mempersiapkan untuk mempelajari materi sebelum dijelaskan oleh pendidik
  • Mengurangi biaya transportasi peserta didik menuju tempat belajar

c.    Manfaat E-learning bagi pengajar
  • Pembuatan bahan ajar yang lebih dinamis dan efisien karena Pendidik lebih mudah melakukan pembaruan materi maupun model pengajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan
  • Tidak membutuhkan waktu tatap muka dikelas yang lama.
  • Tidak terikat waktu dan tempat pertemuan.
  • Pembentukan grup diskusi untuk para peserta didik yang bisa melibatkan pendidik tidak terbatas ruang dan waktu.
  • Dapat memantau perkembangan peserta didik secara langsung dan terarsip.

6.    Implementasi E-learning
Keberhasilan implementasi E-learning tidak hanya ditunjang oleh perangkat teknologi informasi, tetapi juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen dan ekonomi yang memadai. Menurut Natakusumah( 2002), hal yang harus diperhatikan adalah peranan dari para Pendidik adalah cara implementasi, cara mengadopsi teknologi baru, fasilitas, biaya, dan jadwal kegiatan.
Pendidik yang pola pengajarannya menggunakan E-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yang disampaikannya, memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materi pelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan penunjang, penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi mahasiswa, penyeleksian dan pengevaluasian tugas secara elektronik. Studio pengajar perlu dikelola lebih baik dari pada ruangan kelas biasa. Pendidik harus dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio, video materials, dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung.

Menurut Koswara (2006) kemampuan yang diperlukan Pendidik untuk E-learning, meliputi :
a.    Mengerti tentang E-learning
b.    Mengidentifikasi karakteristik peserta didik
c.    Mendesain dan mengembangkan materi E-learning yang interaktif sesuai dengan perkembangan teknologi baru
d.    Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik
e.    Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari
f.     Melakukan training dan praktek secara elektronik
g.    Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan
h.    Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, sikap dan persepsi para peserta didiknya.

7.    Mengoptimalkan E-learning
Untuk menghindari terjadinya kegagalan implementasi E-learning, program-program yang perlu dioptimalkan terkait dengan kebutuhan pengguna E-learning:

  • Untuk informasi mengenai unit-unit terkait dengan proses pembelajaran, misalnya tujuan dan sasaran, silabus, metode pengajaran, tugas, jadwal pengajaran, daftar referensi sebagai bahan bacaan dan kontak dengan pengajar
  • Kemudahan untuk akses kedalam sumber referensi, misalnya bahan pembelajaran, contoh ujian sebelumnya, FAQ (frequently ask question), sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas, situs-situs bermanfaat dan artikel-artikel dalam pembelajaran E-learning
  • Dibangunnya komunikasi dalam kelas, misalnya adanya forum diskusi online, mailing list diskusi, adanya pengumuman yang menyediakan informasi tentang perubahan jadwal pengajaran, informasi tugas dan batas waktu pengumpulannya.

8.    Contoh-contoh Portal E-learning
http://belajar.kemdikbud.go.id
Portal Rumah Belajar adalah portal yang di bangun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memfasilitasi ketersediaan konten bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik, seperti bahan belajar interaktif yang dilengkapi dengan media pendukung gambar, animasi, video dan simulasi. Dengan portal ini diharapkan proses belajar mengajar akan semakin menarik dan menyenangkan sesuai dengan slogannya “Belajar Dimana Saja, Kapan Saja, Dengan Siapa Saja
Untuk dapat memanfaatkan portal ini dengan optimal, pengguna harus registrasi, dan registrasi pengguna tidak dipungut biaya. Tujuan registrasi adalah untuk dapat dimonitor statistik pengguna portal ini. Dengan registrasi pengguna dapat meng-upload konten, mengunduh konten, komunikasi secara synchronous maupun asynchronous berupa forum, kelas maya serta bimbingan belajar yang ada di portal rumah belajar, sebaliknya jika tidak registrasi pengguna hanya bisa melihat konten yang ada di portal rumah belajar.

http://bse.depdiknas.go.id/
Web yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan yang satu ini siswa-siswa tingkat SD hingga SLTA (SMA/SMK) tak perlu lagi membeli buku-buku pelajaran yang mahal, cukup download saja, karena urusan copyright (lisensi) sudah merupakan urusan pemerintah.

http://www.ayo-sekolah.org
Situs E-learning Pendidikan Online Indonesia, dengan pemanfaatan teknologi informasi dan mendukung untuk sistem pembelajaran yang mandiri, cerdas dan penuh dengan kreatifitas. serta guru / tutor yang berpengalaman, bertanggung jawab serta berdedikasi tinggi dalam pendidikan di indonesia

http://www.oke.or.id
Sebagaimana namanya (Open Knowledge & Education), website OKE adalah sebuah media untuk saling berbagi ilmu pengetahuan di seluruh disiplin ilmu.
OKE menampung materi apapun baik itu modul pelatihan, materi pembelajaran, contoh-contoh soal, aplikasi pembelajaran, presentasi, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan apapun.Seluruh isi (content) website ini dibagi dalam kategori-kategori sehingga bisa mempermudah user ketika mereka ingin mencari tutorial tertentu.

http://www.edmodo.com
Saat pertama mengaksesnya, kita seakan sedang mengakses Facebook. Hanya facebook yang ini beda, karena mengkhususkan untuk pendidikan. Situs E-learning ini memang didesain seperti facebook. Situs ini tampaknya ingin memadukan fungsi E-learning sebagai media pembelajaran online dengan kemampuan social network seperti facebook untuk saling terhubung dan sharing informasi dan konten-konten (materi) pendidikan. Melalui edmodo, kita bisa berkolaborasi dan saling terhubung dengan guru/dosen dan mahasiswa/siswa di seluruh dunia dengan cara yang fun, seakan sedang mengakses facebook.


Portal ini adalah subdomain dari situs resmi Sekolah Indonesia Singapura yang beralamat di http://sekolahindonesia.org.sg yang diperuntukan khusus sebagai sarana pembelajaran online bagi guru-guru serta siswa/i di lingkungan Sekolah Indonesia Singapura maupun Sekolah Indonesia yang berada di luar negeri lainnya.

Sarana pembelajaran online merupakan sarana baru yang diterapkan disekolah-sekolah diseluruh Indonesia sebagai alternatif yang dapat menyediakan interaksi jarak jauh secara non-formal untuk melakukan kegiatan pembelajaran dalam memperoleh materi pembelajaran, sumber belajar, panduan atau bimbingan ataupun tutorial secara bertahap secara on-line dan real time ataupun secara off-line..


http://ilmukomputer.org
Merupakan komunitas E-learning yang membagi literatur dan materi pembelajaran secara bebas dan gratis di bidang computing alias ilmu komputer dan teknologi informasi dalam bahasa Indonesia. Materi gratis dengan Lisensi Open Content tersedia dalam format PDF yang bebas untuk didownload.

http://www.digitalstudio.co.id
Digital Studio Workshop, sebuah Institusi pendidikan komputer grafis di 10 lokasi (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang).

www.photopointindonesia.com
Tempat para fotografer pemula belajar dasar fotografi sampai ke tingkat mahir melalui kelas fotografi ataupun tukar menukar ilmu dengan para senior. Photopoint juga memberikan pengetahuan fotografi gratis di websitenya.

http://www.teknimedia.com
Disediakan bermacam-macam paket pelajaran atau semacam kursus dalam bentuk CD untuk mempelajari bermacam-macam ilmu komputer dan internet

http://literature.domaindlx.com/josunter/e-school/
Situs berbahasa Indonesia ini menamakan dirinya e-school (sekolah-elektronik). Materi di sana kebanyakan berhubungan dengan dunia internet.

http://id.i-tutor.net
Situs paket belajar online yang lengkap untuk anak-anak berusia 7 s.d 12 tahun seperti Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam.

http://www.findtutorials.com
Situs gerbang pencari situs tutorial online di web ( 700 kategori, 4000 tutorial)

http://www.angelfire.com/journal/brownrb/index.html
Situs tentang Lifelonglearning dan mengklaim telah diakses lebih dari 10 juta orang.


8.    Daftar Pustaka

Koswara, E. (2006): Konsep Pendidikan Tinggi Berbasis E-learning : Peluang dan Tantangan. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ITB

Moore, M.G. & Kearsley, G. (2010). Distance Education: A sistems view. New York: Wadsworth Publishing Company

Natakusumah, E.K. (2002); Multimedia sebagai sarana pembelajaran; Lokakarya Multimedia sebagai sarana pembelajaran metode learning based; DUE-Like TPB ITB

Rosenberg, M.J. (2009). E-learning : Strategies for Delivering Knowledge in The Digital Age. The McGraw-Hill Companies Inc.

Verduin, J.R. & Clark, T.A. (2011). Distance Education: The foundations of effective practice. San Francisco, CA: Jossey-Bass Publishers.

Willis, B. (2012). Distance Education: A practical guide. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications.


JOKOWiN
Agustus 2013

( disarikan dari berbagai sumber )

Selasa, November 13, 2007

PEMASARAN E-COMMERCE

PRINSIP-PRINSIP PEMASARAN DALAM APLIKASI E-COMMERCE

ABSTRAK

E-commerce telah menjadi transformasional yang berpotensi dalam berbagai industri dan jasa keuangan industri dimana dampaknya diharapkan sangat kuat. Dalam riset kualitatif ini empat studi kasus telah dikembangkan, dari serangkaian wawancara mendalam, untuk menyelidiki beberapa cara jasa keuangan organisas Inggris yang sudah menjawab inovasi ini.
Dengan mengambil perspektif yang luas dari manajer diberbagai disiplin, study ini utamanya terpusat pada aplikasi prinsip-prinsip pemasaran organisasi secara luas, dengan tantangan baru yang diperkenalkan oleh E-commerce.
E-commerce menyajikan tantangan budaya dan struktural yang pantas dipertimbangkan oleh organisasi besar. Ini juga berpotensi untuk mengubah sejumlah aspek pelanggan manajemen.

Latar Belakang Riset.

E-commerce telah menjadi transformasional yang berpotensi dalam berbagai industri dan jasa keuangan industri. Ini menjadi peluang dan tantangan yang peling besar yang dihasadpi oleh hampir semua industri (Achrol dan Kotler 1999) dan ini diklain oleh perusahaan yang tidak punya pilihan untuk menyebarkan teknologi internet untuk tetap berkompetisi (Porter 2001).
Jasa keuangan diharapkan berdampak kuat terhadapindustri (Birch dan Young,1997). Karena dimensi biaya badasar berubah dari bisni dan struktur distribusi (Durkin dan Bennett, 1999). Sebagai tambahan yang diargumentasikan bahwa dengan menyediakan kemudahan akses informasi yang berpindah tangan kekonsumen (Mitchell, 2000; tapp 2000) prediksi ini memindahkan e-commerce ke jasa keuangan yang merupakan suatu kebutuhan riset untuk memahami penomena ini sepenuhnya.
Bagian riset dalam paper ini menjelaskan penjelasan study kasus melibatkan wawancara diberbagai fungsi yang berbeda pada 4 organisasi jasa keuangan; untuk memperoleh tinjauan managerial dengan cara ini mereka telah menjawab perubahan ini. Didalam karya ini fokus riset adalah praktek dan prinsip-prinsip pemasaran yang telah diterapkan. Dalam ide ini orientasi pasar dianggap sebagai pusat yang menujukkan model utama untuk merespon perubahan. Jaworski dan Kohli (1993, p.56) menyarankan : orientasi pasar secara esensil melibatkan suatu hal yang baru atau berbeda sebagai jawaban atas kondisi pasar, yang mungkin dipandang sebagai bentuk dari perilaku inovatif.

Hurley dan Hult (1998) membantah secara kuat bahwa orientasi pasar itu adalah adopsi dari perilaku yang baru dan inovasi itu menyangkut komponen model orientasi pasar. Orientasi pasar secara ekstensif diteliti dalam study kuantitatif dibeberapa negara dan sektor industri (Lihat Lafferty dan Hult 2001 untuk ditinjau) bagaimanapun hal ini telah ada dan sangat mendalam, cara riset multi responden mungkin digunakan dalam praktek khususnya dari tinjauan banyak fungsi yang berbeda dalam organisasi dari sinilah juga riset terbaru, mendalam, riset empiris dalam konsep pemasaran operasi dalam industri perbangkan atau sektor jasa keuangan yang lain walaupun hal ini diklaim bahwa profesi perbankan sebagian besar gagal diadopsi pada konsep pemasaran (Baker, 1993). Dengan fakta bahwa keseluruhan industri jasa keuangan berubah sangat cepat, riset ini sepertinya akan terlambat.

Metodologi

Paper ini menguraikan bagian riset kualitatif yang melibatkan empat studi kasus yang dikembangkan dari serangkaian wawancara mendalam. Studi awal mulai dipandu pada desember 1999 dan januari 2000 dan sisa wawancara diambil antara juli dan desember 2000. pelaksanaan berbagai study kasus dapat dilihat pada berbagai percobaan dan pemberian makna dari penambahan validitas dan reabilitas riset melalui triangulasi. Pelaksanaan sejumlah study kasus juga memberikan makna menguji informasi dengan membandingkan antara kasus (Robson, 1993) dan membantu menambah kepercayaan pada interpretasi data dengan menyelidiki fenomena yang sama dalam keadaan yang berbeda (Stake, 1995).
Dalam study kasus ini dipilih yang menjelaskan dua kategori utama menyangkut industri jasa keuangan : perbangkan dan asuransi. Pasar jasa keuangan Inggris meliputi cakupan yang luas dari institusi dan ini sulit dilakukan riset yang memahami tiap-tiap sektor. Bagaimanapun pembedaan utama dibuat dalam textbook antara dua sektor utama perbankan (termasuk kredit rumah) dan asuransi. Perusahaan dapat memilih riset yang mempunyai bisnis utama dalam satu atau kedua sektor inti dari jasa keuangan.
Hal ini juga penting untuk melibatkan e–commerce dan siap membantu dalam mengusahakan akses ke para manager dalam bisnis tersebut. Ini titik penting terakhir dari pandangan praktis. Metode dipilih untuk melaksanakan study kasus yang melibatkan pewawancaraan dengan sejumlah eksekutif yang sibuk dari departemen yang berbeda di masing-masing organisasi. Salah satu pertimbangan utama dalam mengusahakan akses untuk wawancara mendalam. Sponsor adalah senior kontak yang menerima tanggung jawab untuk keterlibatan dan komitmen dari orang yang diwawancarai. Sponsor ini perlu dan sangat penting dalam mengusahakan kecukupan akses.

Wawancara mendalam individu dipilih sebagai metode utama dalam pengumpulan data seperti mengizinkan responden tidak menyebutkan nama dan memberi kesempatan untuk memeriksa dan memperjelas poin-poin yang timbul. Hal ini juga merupakan cara yang lebih praktis dalam keikut sertaan para eksekutif dan manajer yang sibuk.
Wawancara semi struktur
dengan pemandu topik memberikan beberapa konsistensi dan struktur pada wawancara itu. Pemandu topik digunakan untuk memberi petunjuk wawancara, tatapi tidak digunakan sebagai jawaban langsung, dan responden didukung untuk bebicara panjang lebar sekitar topik sebagai tambahan follow-up pertanyaan digunakan selama wawancara, yang perlu, disampaikan kepada responden penjelasan atau pengembangan respon mereka khususnya fungsi diwakili dalam wawancara yang mencakup

· pemasaran, penjualan, operasi, administrasi, sumberdaya manusia, IT, perubahan manajen dan keuangan.

Semua wawancara yang dikerjakan direkam dan ditranskrip. Transkrip kemudian diberi tanda dengan konsep dan ditranspormasi serta disederhanakan dalam memudahkan display, analisis dan perbandingan seperti yang direkomendasikan oleh Miles dan Hubertman (1989). Pengkodean direvisi dan dikembangkan untuk kemajuan riset. Display dikembangkan untuk konsep yang berbeda meringkas tanggapan dari tiap responden dan membiarkan analisa kasus

Ikhtisar Studi Kasus

Ada suatu konsensus yang kuat dari studi kasus responden e-commerce pada arti strategi signifikan untuk organisasi dan jasa keuangan mereka secara umum ada sedikit persetujuan pada langkah perubahan walaupun banyak responden merasa terlalu lama waktu yang digunakan oleh populasi mayoritas. Dampaknya dapat dilihat dala 3 area utama :

  1. ketersediaan informasi untuk pelanggan
  2. otomasi pemeliharaan dan transaksi, dan
  3. potensi mengurangi biaya-biaya.

Sedangkan ada persetujuan yang lebih penting dari e-commerce, cara dari 4 organisasi yang menjawab fenomena baru ini sangat bervariasi seperti diuraikan dibawah ini. Masing-masing organisasi memberi nama palsu untuk menjaga kerahasiaannya.

Konsep pemasaran dan pengembangan e-commerce

Konsep pemasaran dengan gagasan orientasi pasar menekankan pada pelanggan tetapi apa penekanan yang dapat ditempatkan jika berhadapan dengan suatu fenomena baru?. Ada banyak bukti penggunaan umpan balik pelanggan dan dan riset kompetitor secara umum. Terdiri dari umpan balik melalui kontak penjualan dan juga menggunakan seluruh metode riset pemasaran formal. Tentu saja dalam bidang riset pesaing ada banyak informasi dan masalah yang dihadapi oleh manajer.
Bagaimanapun ada sedikit bukti dari konsumen intelejen pasar yang berpengaruh signifikan dalam membuat keputusan strategis yang diperlukan untuk mobilisasi proyek e-commerce dalam organisasi ini. Sedangkan manajer dalam studi kasus organisasi mempunyai visi yang jelas tentang masa depan yang diberikan oleh pelanggan, kenyataanya adalah mereka harus percaya pada apa yang mereka tahu dan apa yang mereka rasakan.

Tantangan akan kebutuhan ini untuk mengantisipasi masa depan yang dihadapi dengan inovasi yang tidak nyata meliputi mdel orientasi pasar. Kohli dan Jaworski (1990) mengakui adanya generasi intelejen yang melibatkan antisipasi kebutuhan konsumen yang akan datang, tetapi tidak melakukan pengembangan melalui hal ini.
Tentu saja selanjutnya dalam peper Jaworski dan Kohli membantah inovasi adalah hasil orientasi pasar. Hubungan antara inovasi dan orientasi pasar tidak jelas. Satu argumen (Hayes dan Abernathy, 1980) menyatakan bahwa difokuskan orientasi pasar merugikan inovasi, berdasar pada ide dimana orientasi pasar menggangu bisnis yang tertarik akan kebutuhan pasar jangka pendek.
Disisi lain diusulkan model orientasi pasar yang lebih difokuskan pada inovasi (Hurley dan Hult, 1998) mereka menyatakan bahwa, jika orientasi pasar memerlukan adopsi perilaku baru (inovasi), konstruk inovasi harus tercakup dalam orientasi pasar yang ada.

Study orientasi pasar yang lain (Narver dan Slater, 1990; Slater dan Narver, 1994) mengambil posisi keberadaan konsumen dan orientasi pesaing dalam menciptakan nilai konsumen yang cukup dalam manfaat kompetisi bisnis.
Akhir-akhir ini Slter dan Narver (1998) mempunyai pandangan yang dimodifikasi dengan menambahkan pengembangan organisasi orientasi pasar pemikiran jangka panjang dan usaha untuk mencukupi kebutuhan konsumen yang tersembunyi. Bagaimanapun mekanisme pasar dirasakan dengan cara yang tidak jelas, bagaimanapun orientasi pasar original terkait dalam model. Slater dan Narver (1999) mengakui bahwa pemahaman orientasi pasar selanjutnya akan meningkat dan menjawab ketidak tahuan.

Pengalaman manajer dalam study kasus nampak seperti jumlah intelejen yang sangat besar dan riset dikumpulkan seta digunakan dalam perusahaan yang hanya terbatas pada aplikabilitas pengembangan strategi. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian masadepan dan kesulitan proposisi teori penelitian terhadap pelanggan.

Konsep pemasaran dan responsi organisasi e-commerce

Untuk organisasi yang berorientasi pasar tidak cukup hanya difocuskanpada pelanggan dan kompetitor; hal ini penting untuk merespon perubahan dalam pasar. (Kohli dan Jaworsky 1990) dalam organisasi yang besar melibatkan tingkat koordinasi inter fungsional (Naerver dan Slater, 1990). Organisasi kecil difokuskan pada perubahan organsasi.

Kebutuhan untuk membimbing organisasi dan juga berpusat pada batas waktu yang singkat untuk implementasi tantangan dan bukan pada pelatihan manajemen tradisionil yang telah disiapkan (Smith, 1998), hal ini diperlukan untuk melihat secara detail masing-masing area dan jenis orang yang terlibat, dan juga menjaga gambaran yang ada dalam pikiran mereka. Hal ini tidak hirarkis (Miles et al ; 2000) dan aturan tradisional tidak selau diterapkan.

Untuk mengambil manfaat dari keuntungan e-commerce Porter (2001) menekankan imperatif perusahaan untuk mengembangkan value chain untuk mempertahankan manfaat kompetisi. Hal ini melibatkan tingkat integrasi tinggi pada aktifitas. Sebagai contoh aktifitas penjualan dihubungkan dengan proses order.

Disamping sukses awal rancangan e-commerce dalam beberapa studi kasus ada tantangan nyata dalam mengembangkan dan mendukung integrasi dan koordinasi pendekatan fungsional untuk implementasi jangka panjang, jika hal itu ada didalam organisasi tersebut. Dalam study kasus Interbank, penciptaan operasi yang terpisah nampaknya gagal.

Berdasarkan hal ini perusahaan yang melakukan bisnis melalui internet, issu organisasi muncul yang menuntut penyesuaian infrastruktur organisasi ; budaya, struktur dan manusia (Boddy dan Boonstra, 2000). Terapi perubahan pada norma-norma dan model mental (Kondra dan Hining 1998) dapat secara phisikologis mengancam (Ashkenas, 2000). Oleh karena itu perlu dikenali keputusan strategis untuk mengembangkan inovasi yang mempunyai imlikasi organisasi yang sangat besar (Prahalad dan Hamel, 1990).

Issu implementasi strategis dikenal dalam model orientasi pasar utama bagaimanapun argumentasi seperti ini kurang dipahami. Kohli dan Jaworsky (1990) mengatakan bahwa kemampuan reaksi bukan generasi intelejen atau diseminasi, tetapi inti dari model mereka. Kemampuan reaksi adalah tindakan mengambil jawaban pada tren pasar, yang melibatkan secara virtual semua departemen dalam organisasi.

Meskipun Jaworsky dan Kohli (1993) mengakui bahwa analisis mereka tidak nampak pada proses perubahan. Dalam model alternatif Narver dan Slater (1990) mekanisme reaksi pada perubahan adalah suatu cara integrasi koordinasi interfungsional. Untuk memenuhi hal ini perusahaan secara efektif harus mengembangkan struktur horisontal dan mengatur proyek melalui tim multi fungsional (Slater dan Narver, 1994), tetapi mereka juga membutuhkan pembelajaran organisasi (Slater dan Narver, 1995) mereka setuju dengan Day (1994) yang menyatakan bahwa kemampuan atasan untuk belajar adalah kritis karena itu akselerasi perubahan teknologi dan kebutuhan akan pengembangan kemampuan yang berbeda untuk mencapai manfaat kompetisi. Meskipun mereka menerima bahwa tidak ada teori secara luas yang diterima dari budaya dan iklim pembelajaran organisasi.

Konsep pemasaran dan manajemen pelangganmelalui e-commerce

Dua bagian sebelumya difokuskan pada operasi konsep pemasaran pada level pengembangan strategi dan perubahan organisasi dalam hubungan pengenalan e-commerce. Bagian ini difokuskan pada tingkat operasional dalam mempertimbangkan bagaimana e-commerce itu sendiri dan bersama dengan saluran yang lain yang digunakan dalam hubungan dengan pelanggan. Responden dari 4 organisasi menyebutkan 3 unsur utama manajemen pelanggan yang mereka harapkan dapat dikirim melalui e-commerce. Unsur tersebut adalah :

1. ketetapan informasi pada tanggung jawab individu

2. komunikasi dua arah dengan pelanggan

3. transaksi self-service

Hubungan ini dianggap penting pada proses pemasaran karena pentingnya layanan pelanggan sebagai bagian dari pertimbangan dari total hubungan organisasi dengan pelanggan tersebut. Hubungan pemasaran telah dikemukakan sebagai peradigma baru dalam pemasaran, khususnya mengenai arti dalam layanan perusahaan hal ini digambarkan sebagai penetapan, pemeliharaan, dan menambah hubungan dengan pelanggan dan mitra yang lain (Grondros, 1994,1996) dan memberikan alternatif tinjauan model fungsional tradisionil Amerika.

Literatur pemasaran jasa (Reicheld dan Sasser, 1990; Berry dan Parasuraman, 1991) menekankan pada hubungan antara kualitas layanan dan kepuasan pelanggan serta retensi. Argumentasi ini menyatakan bahwa dengan meningkatkan kualitas layanan, kepuasan layanan pelanggan akan meningkat dan pada akhirnya pelanggan merasa kepuasannya dipenuhi dalam hubungan yang kuat dengan penyedia. Mungkin ada satu jenis kesempatan baru untuk memelihara hubungan pelanggan yaitu dengan menggunakan e-commerce.

Manfaat ini mengoptimalkan kualitas hubungan dua arah (Sharpe, 1999) dan dengan mengkombinasikan kemampuam merespon secara langsung permintaan pelanggan dan menyediakan pengalaman interaktif, perusahaan mungkin mempunyai kemampuan yang lebi besar untuk menetapkan, memelihara, dan mendukung hubungan jangka panjang (Winer, 2001).

Ada implikasi utama untuk peran cabang dalam manajemen pelanggan jika transaksi terus meningkat akan lebih self-service. Dalam penasehat teori di cabang lebih dipusatkan pada kebutuhan pelanggan pada lingkup kehidupan yang berbeda dan memberikan nasihat. Dalam informasi yang dikumpulkan melalui online dapat membantu pemahaman kebutuhan pelanggan.

Pada waktu yang sama kreasi unit layanan pelanggan untuk berhubungan melalui telepon dan kontak pelanggan e-commerce merupakan umpan balik yang dikumpulkan oleh staf pusat dan administrasi pusat yang menerima komunikasi langsung dengan pelanggan.

Kesimpulan

Study ini menggunakan penglihatan mendalam untuk menyelidiki cara yang ditempuh oleh sejumlah organisasi jasa keuangan yang telah merespon e-commerce. Khususnya pertanyaan dalam paper ini menanyakan sejauh mana konsep pemasaran, operasionalisasi dalam model orientasi pasar utama yang memberikan kerangka konsep untuk memandu para praktisi dalam merespon penomena baru seperti e-commerce.

Dengan mengambil pendekatan mendalam dengan berbagai responden kemungkinan akan diperoleh perspektif yang berbeda dari para manajer yang mempunyai cakupan peran fungsional dan latar belakang profesional yang luas. Hal ini menunjukkan perspektif yang mempertimbangkan gagasan meliputi konsep pemasaran tersebut. Data dikumpulkan dari beberapa pertanyaan tentang kecukupan model yang ada untuk menjelaskan aspek-aspek tertentu dari inovasi organisasi pasar dalam sejumlah tingkatan yang berbeda. Ditingkat perumusan strategi tidak cukup jika hanya difokuskan pada pelanggan dan kompetitor serta gap dalam model orientasi pasar yang menjelaskan market sensing dan proses pengambilan keputusan.

Dengan langkah perubahan yang cepat sekarang ini, terutama dalam penerapan teknologi untuk menetapkan bisnis seperti jasa keuangan, pada riset selanjutnya diperlukan memahami proses pengambilan keputusan strategis dan bagaimana jika dihubungkan dengan antisipasi kebutuhan pelanggan, pada interaksi tingkat organisasi dari struktur dan budaya dalam proses perubahan menyatakan bahwa riset yang disiplin lebih diperlukan dalam mengembangkan pemahaman kita. Akhirnya, pada tingkat operasional e-commerce dan saluran komunikasi yang lain akan membawa area baru organisasi kedalam hubungan langsung dengan pelanggan, untuk pertama kali. Dalam aplikasi ini konsep pemasaran merupakan unsur penting. Pengembangan selanjutnya dari kerangka umum untuk pemahaman manajemen pelanggan, yang meliputi keseluruhan hubungan dengan pelanggan, yang merupakan dasar untuk keberhasilan pada pendekatan yang lebih konsisten.

Area untuk riset dan pengembangan teori bukan sesuatu yang diminati oleh akademisi untuk organisasi besar membuat investasi multi-million dalam teknologi dan perebutan yang berhubungan dengan permasalahan bagaimana cara mengintegrasi dan mengkoordinasi layanan dalam lingkungan multi saluran dalam aplikasi yang sangat praktis.

Rabu, November 07, 2007

TEKNIK MENULIS

Teknik Menulis & Usaha Sebagai Penulis Teknologi Informasi

Seorang penulis khususnya penulis teknologi informasi (IT), sebetulnya banyak berfungsi seperti seorang .tukang sulap. yang membeberkan .rahasia sulap. bagi masyarakat. Berbagai rahasia, teknik konfigurasi, teknik perancangan di ungkapkan secara detail dalam buku maupun artikel IT bagi masyarakat luas. Di satu sisi menguntungkan produsen peralatan / software teknologi informasi karena demand / pasar / market akan kebutuhan IT masyarakat menjadi lebih terbuka. Di sisi lain, mungkin akan mengurangi pendapatan & kesempatan usaha para konsultan teknologi informasi karena masyarakat menjadi tidak memerlukan jasa para konsultan tsb. lagi.
Filosofi dasar seorang penulis IT yang sukses sebetulnya tidak berbeda dengan seorang guru. Kesuksesan seorang penulis dapat di nilai dari jumlah pembaca yang sukses dalam menguasai dan mengimplementasikan teknologi informasi. Dari sisi penulis, bahasa & teknik pembahasan . penyampaian secara sederhana hal yang kompleks menjadi mudah di mengerti pembacanya.. Tentunya semua ini akan di bantu oleh jalur distribusi penerbit buku tsb.

Untuk menjadi seorang penulis IT yang baik, mau tidak mau, banyak membaca, banyak berdiskusi, harus fokus pada hal yang cukup spesifik dalam bidang IT, dan tentunya harus fokus pada hal-hal yang penulis sukai. Akan sangat sulit menulis hal yang tidak kita sukai.
Beberapa trik sederhana bagi pemula dalam menentukan topik, antara lain, aktif dalam berdiskusi di mailing list di Internet akan sangat membantu untuk memfokuskan diri, mengasah kemampuan, maupun memberikan masukan arah keinginan pembaca.

Membaca berbagai referensi & dokumen di Internet dari hasil diskusi / perdebatan di Internet. Mencoba / berexperimen dengan teknologi. Jangan lupa, mendokumentasikan secara terstruktur berbagai referensi, diskusi maupun hasil experimen yang kita lakukan. Sering kali proses ini memerlukan ketekunan, ketelatenan dalam perioda yang cukup lama . beberapa tahun.

Teknik menulis yang paling sederhana akan sangat terbantu oleh power point untuk mengatur alur cerita. Sambil menyiapkan informasi pendukung, seperti, gambar, blok diagram, dan listing program. Keberadaan alur cerita power point akan sangat memudahkan kita menuangkan kata-kata dalam naskah, baik itu artikel maupun naskah bab sebuah buku. Jika semua data pendukung telah siap, biasanya membutuhkan waktu sekitar satu dua bulan untuk menulis naskah buku.

Biasanya sebuah buku pemula tidak lebih dari 150-250 halaman agar harga jual tidak melebihi Rp. 20.000,-. Di atas Rp. 20.000,- orang akan berfikir dua kali untuk membeli buku tersebut.
Sebuah penerbit biasanya akan menilai kelayakan sebuah naskah IT dari berapa besar pembaca-nya semakin banyak pembaca-nya semakin baik sebuah naskah.

Seorang penulis perlu meyakinkan penerbit melalui abstrak, gambaran umum isi naskah, daftar isi, target pembaca, besarnya komunitas pembaca, tentunya track record penulis akan sangat menentukan bagi penerbit untuk menentukan pilihan. Pembangunan track record dapat dilakukan melalui keaktifan menjawab di mailing list maupun menulis artikel-artikel pendek di majalah-majalah.

Ada beberapa metoda royalti yang dapat di anut, misalnya, membeli seluruh naskah di awal, atau berdasarkan jumlah penjualan . biasanya sekitar 10% dari harga buku. Adalah normal seorang penulis memperoleh Rp. 5 juta dari penjualan 5000 eksemplar buku. Sementara naskah artikel 2-4 halaman Word di media cetak biasanya di hargai antara Rp. 150-250.000 / artikel. Tentunya semua merupakan hasil negosiasi.

Yang menarik dari sebuah proses penulisan buku adalah terbentuknya masyarakat yang semakin pandai dan mengerti teknologi informasi. Ciri khas teknologi informasi, sebagian besar trik, detail implementasi, bahkan konsep terbarunya biasanya tidak pernah diajarkan di lembaga pendidikan formal karena kurikulum DIKNAS biasanya sangat ketinggalan jaman.

Konsekuensinya, buku dan artikel IT menjadi andalan utama banyak vendor peralatan & software komputer dalam mendidik calon pembeli peralatan mereka. Proses diseminasi melalui buku dan artikel IT dengan pembaca ribuan bahkan puluhan ribu menjadikan proses marketing menjadi sangat murah di bandingkan proses marketing konvensional menggunakan advetorial di media atau mengorganize ceramah, seminar, workshop yang hanya menampung ratusan peserta.

Tidak heran jika banyak vendor-vendor komputer atau software terkemuka akan berusaha mendekatkan diri dengan para penulis atau redaksi koran agar produk-nya di review atau menjadi contoh dalam berbagai buku dan artikel yang ditulis. Pinjaman peralatan atau software untuk di review dan dicoba adalah normal pada seorang penulis IT.

Sering kali, para pembaca tetap membutuhkan proses tatap muka untuk dapat mengerti dengan baik berbagai teknik yang di jelaskan dalam sebuah buku. Untuk keperluan ini, sebuah vendor / distributor tidak segan-segan menuangkan sponsorship untuk mendukung acara-acara demo, workshop tentang detail teknologi informasi yang biasanya jarang diadakan di Indonesia.

Kita di Indonesia masih sangat jarang sekali penulis IT yang berani menyingkap rahasia teknologi informasi dan sering menuliskan secara detail tekniknya. Adalah kesempatan emas, bagi mereka untuk terjun ke bidang penulisan IT yang tidak terlalu banyak persaingannya. Tentunya seorang penulis IT tetap harus menjaga dirinya agar tetap netral tidak berpihak pada salah satu vendor secara spesifik agar review yang dilakukannya lebih berkualitas. Apa yang baik harus dikatakan baik, apa yang yang jelek harus dikatakan jelek.


Disarikan dari tulisan : Onno W. Purbo


JOKO WiN
November 2007

Jumat, Oktober 12, 2007

LESS FAVOURED

PEMASARAN LULUSAN PROGRAM LESS FAVOURED KE INDUSTRI

SEBAGAI IMPLEMENTASI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DI PPPGT / VEDC MALANG

Abstraksi
Program LF (Less Favoured) adalah merupakan program sosial PPPGT/VEDC Malang yang diperuntukkan bagi remaja putra maupun putri yang berkemauan keras untuk maju dan berkembang terutama dari kalangan keluarga kurang mampu/ekonomi lemah.
Program ini dilaksanakan dengan harapan mampu untuk membekali peserta dengan kemampuan dan keterampilan dalam bidang skill, kedisiplinan serta etos kerja yang tinggi sehingga setelah program selesai diharapkan peserta memiliki kompetensi yang pada akhirnya mampu dan dapat diterima bekerja di industri.
Hal ini berarti, pengelolaan program LF harus diperbaiki dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan jumlah peserta berarti program Corporate Social Responsibility yang dilaksanakan PPPGT/VEDC Malang mulai terlihat hasilnya.
Kerjasama dari semua stakeholder sangat diperlukan agar program sosial yang mengangkat derajat kaum tidak mampu tidak hanya dalam program tetapi bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Kata Kunci : Less Favoured, Corporate Social Responsibility, Daya Serap Pasar

Latar Belakang
Indonesia dengan pemerintahan baru telah melaksanakan berbagai bentuk reformasi di berbagai bidang guna kepentingan intern maupun agar mampu bersaing dalam percaturan dunia. Selain hal itu pada tahun 1995 Indonesia bersama negara-negara anggota APEC lainnya telah menyepakati Liberalisasi Perdagangan dalam waktu 25 tahun mendatang. Hal ini akan besar pengaruhnya terhadap industri kita. Krisis moneter memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku perusahaan bahkan pemerintahan. Pada tahun 2003 Indonesia mulai memasuki pasar bebas tingkat ASIA (AFTA) sebagai awal era global.
Di era global tersebut kita dituntut untuk mengimbangi dan meningkatkan sumberdaya melalui upaya-upaya peningkatan mutu, efisiensi, efektifitas, dan fleksibilitas. Semua negara berkembang dilingkungan kita juga melakukan langkah-langkah perbaikan diberbagai aspek.
Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan sangat penting untuk pengembangan industri-industri produksi. Perbaikan keterampilan harus disesuaikan dengan inovasi, upaya-upaya kewirausahaan, pengelolaan menyeluruh terhadap unjuk kerja/kinerja - Total Performance Management (TPM), perbaikan mutu dan fleksibilitas perpindahan bidang kerja. Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan yang baik akan memberikan keterampilan-keterampilan yang diperlukan tenaga kerja. Ini juga akan sekaligus memberikan dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan dalam pengembangan keterampilan, sikap kerja, dan kemampuan untuk dapat dengan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa depan, termasuk perkembangan teknologi baru. Sumber daya yang dapat diperbaharui dan paling berharga bagi Indonesia ialah keterampilan dan kemampuan rakyatnya.
Indonesia harus memiliki suatu sistem pelatihan dimana pekerja pemula maupun pekerja yang lama, dapat memperoleh keterampilan yang betul-betul diperlukan oleh sektor-sektor produktif dari ekonomi, dan dapat memperoleh sertifikat sebagai bukti keterampilannya. Saat ini Indonesia masih berupaya untuk mewujudkan sistem seperti itu secara nasional. Kita tidak dapat membiarkan begitu banyak orang terkucilkan dari kemungkinan mendapatkan keterampilan kerja.
Sebagian besar pekerja saat ini masih akan bekerja sampai 20 tahun yang akan datang. Mereka harus dapat mengikuti pelatihan atau pelatihan ulang. Angkatan kerja baru harus bisa mendapatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sehingga dapat membantu dalam memperoleh pekerjaan yang baik.
Apa yang kita miliki saat ini belum dapat membantu para pekerja baru karena belum adanya sistem sertifikasi dan kualifikasi secara nasional untuk seluruh sektor kegiatan ekonomi. Program-program Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan pada umumnya belum menerapkan kompetensi yang berkaitan dengan lapangan kerja.
Sejalan dengan itu, PPPGT / VEDC Malang telah mengembangkan Program Less Favoured ( LF ) yang dilaksanakan sejak tahun 1995 sampai saat sekarang.

PROGRAM LESS FAVOURED ( LF )
1. Pengertian
Program LF (Less Favoured) adalah merupakan program sosial PPPGT/VEDC Malang yang diperuntukkan bagi remaja putra maupun putri yang berkemauan keras untuk maju dan berkembang terutama dari kalangan keluarga kurang mampu/ekonomi lemah.
Program ini dilaksanakan dengan harapan mampu untuk membekali peserta dengan kemampuan dan keterampilan dalam bidang skill, kedisiplinan serta etos kerja yang tinggi sehingga setelah program selesai diharapkan peserta memiliki kompetensi yang pada akhirnya mampu dan dapat diterima bekerja di industri.

2. Tujuan

Mengangkat generasi muda dari kalangan ekonomi lemah untuk dapat mandiri dan memiliki kesempatan ikut berpartisipasi dalam pembangunan.

Membantu menyalurkan tenaga kerja terampil yang telah dibekali dengan skill administrasi kesekretaiatan kantor ke industi dan lembaga yang membutuhkan
Membantu usaha pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan serta mengentaskan generasi muda dari pengangguran dan kemiskinan

Membantu pemerintah dalam meningkatkan peranan generasi muda terampil dalam pembangunan Mendidik tenaga terampil melalui program Less Favoured dalam bidang Administrasi Perkantoran dan bengkel, sehingga kualitas kerja dan kemampuan kerjanya meningkat.

3. Target

  • Terjalinnya hubungan kerjasama dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga sekretaris terampil
  • Didapatkannya silabus pelatihan bagi less favoured untuk tenaga administrasi yang didasarkan kepada kebutuhan di lapangan kerja
  • Mengupayakan sejauh dimungkinkan prinsip sustainable untuk program less favoured administrasi di masa mendatang dan praktik lapangan
  • Memberikan materi sekretaris bengkel


4. Implementasi
Program LF yang diimplementasikan di PPPGT/VEDC Malang terdapat dalam beberapa kompetensi, yakni :
- LF Administrasi
- LF Spooring Balancing
- LF Kerja Kayu

Pada paparan kali ini, penulis mengambil salah satu program yakni Program LF Administrasi.

PROGRAM LF ADMINISTRASI
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan di dunia Industri sebagai pengguna lulusan, semakin tahun semakin meningkat jumlah peserta program LF. Hal ini dipicu dengan semakin bertambahnya pelanggan PPPGT/VEDC Malang yang mengetahui adanya program. Disisi lain, hal ini menjadikan mutu dari lulusan yang harus selalu ditingkatkan isi materinya.

1. Kerangka Program
Agar peserta LF berhasil dalam melaksanakan tugas, baik masih di PPPGT/VEDC Malang maupun di Industri kelak, maka perlu dibuatkan Kerangka Program Diklat LF sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Pada dasarnya, Kerangka Program merupakan sebuah kerangka yang dibuat bersama antara PPPGT/VEDC Malang dengan Industri sebagai pengguna lulusan LF. Hal ini dilaksanakan karena materi yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan end user dalam hal ini industri.
Sebagai pengguna lulusan LF, peran Industri sangatlah penting. Sebab selain untuk menentukan jenis materi yang diberikan sekaligus sebagai kontrol aktivitas yang pada akhirnya memberi keuntungan pada Industri pula.

Kerangka Program Diklat :

1. Training Skill, 2 minggu
a. Pengenalan Komputer dan sistem DOS
b. Windows (MS Office & Excel)

2. Pengenalan, 1 minggu
a. Institusi dan peraturan PPPGT/VEDC Malang
b. Pengenalan staf dalam linkungan kerja terkait
c. Sistem penomoran dan filing surat

3. Praktik kesekretariatan, 48 minggu

a. Correspondence
b. Telephon Personality
c. Filing System
d. Customer Service
e. Pengolahan Data
f. Administrasi Peralatan
g. Komunikasi dalam hubungan kerja

4. Tugas Individu, 2 minggu

Total waktu 51 minggu

Didalam imlementasinya, Program LF Administrasi yang telah dilaksanakan di PPPGT/VEDC Malang, telah dilaksanakan diPPPGT/VEDC Malang mulai tahun 1993 – 2007

2. Kewajiban
Kewajiban merupakan tanggungjawab dari PPPGT/VEDC Malang maupun Industri dalam rangka menerima lulusan program LF Administrasi. Kewajiban tersebut bias dibagi menjadi beberapa aktivitas, antara lain :

Kewajiban PPPGT/VEDC Malang :

  • Melaksanakan rekruting calon peserta
  • Melaksanakan pelatihan sesuai bidang yang diinginkan pihak Industri
  • Melakukan pembinaan dan disiplin mental sehingga calon peserta memiliki etos kerja yang diinginkan pihak industri
  • Memberikan semua fasilitas pelatihan kepada peserta
  • Memberikan penggantian kepada Industri apabila dalam masa percobaan yang bersangkutan dinilai tidak kompeten

Kewajiban pihak Industri
  • Memberikan tempat untuk on the job training
  • Melaksanakan evaluasi tentang kompetensi peserta program LF
  • Menerima / mencarikan tempat kerja bagi peserta yang selesai menjalani semua tahapan pelatihan diatas
  • Mengganti biaya pelatihan sebesar 50 % dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan bagi peserta yang telah direkrut dan dilatih di PPPGT/VEDC Malang


PENUTUP
Industri sebagai pengguna lulusan LF mulai tumbuh dan berkembang. Sejalan dengan hal tersebut, pengelolaan program LF mulai diperbaiki dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan jumlah peserta berarti program Corporate Social Responsibility yang dilaksanakan PPPGT/VEDC Malang mulai terlihat hasilnya.
Kerjasama dari semua stakeholder sangat diperlukan agar program sosial yang mengangkat derajat kaum tidak mampu tidak hanya dalam program tetapi bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

REFERENSI

PPPGT/VEDC Malang ( 1993 ), Rencana Kerja Tahunan, PPPGT/VEDC Malang
PPPGT/VEDC Malang ( 2000 ), Laporan Tahunan 2000, PPPGT/VEDC Malang
PPPGT/VEDC Malang ( 2005 ), Laporan Tahunan 2005, PPPGT/VEDC Malang