Tampilkan postingan dengan label PELAJARAN PERJALANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELAJARAN PERJALANAN. Tampilkan semua postingan
Senin, Februari 28, 2011
BUNGA : BAGIAN DARI REJEKI
Bunga...
Bagi sebahagian orang adalah hal yang biasa.
Tapi, tidak bagi saya dan keluarga saya.
Isteri saya termasuk makhluk Tuhan yang bertangan dingin.
Artinya, kalau menanam pasti tumbuh.
Apalagi hobinya menanam bunga.
Setiap tanaman bunga yang ditanam pasti tumbuh.
Menanam tanaman indoor plant atau tanaman hias dalam rumah juga salah satu hobinya.
Semua juga pasti tumbuh, hidup dan berkembang jumlahnya.
Kalau menanam doanya sangat sederhana, yakni :
" Kamu kalau nggak tumbuh, saya buang.....!!! "
Eh semua tananam tumbuh.
Tentunya harus dipupuk, disiram dan dipelihara....
Bunga....
Kami banyak menyimpan kisah tentang bunga dan tanaman hias.
Karena isteri saya hobinya menanam, kami seriusi dengan membuat tempat menanam bunga. Istilah kerennya Green House....
Di area Green House inilah, bunga dan tanaman hias kami kelola.
Bunga kami labeli dengan nama yang tak kalah keren : Mekarwangi
Artinya, berkembang dan makin harum kemana-mana Jualan bunga.
Hasilnya? Lumayan.
Selain bisa mengembangkan hobi, juga mendapatkan uang.
Kalau jualan nggak laku hari ini, tanaman disirami lagi.
Asal nggak mati, pasti laku lagi.
Gusti Alloh memang Maha Luar Biasa.
Kami diberi rejeki dari hobi yang kami tekuni....
Bunga....
Jualan ini kami jalani beberapa tahun.
Saya nggak pernah merasa malu. Isteri saya juga nggak pernah merasa malu.
Karena jualan ini Halal, bukan barang hasil curian, tapi barang hasil usaha.
Dari satu tempat ke tempat lain, pameran kami ikuti
Dari yang berskala kecil sampai yang berskala besar.
Dari sini kami belajar sesuatu.
Gusti Alloh membuka rahasia alam tentang tanaman.
Kalau kita berusaha mencintai alam, maka alam akan memberi kita hasil yang luar biasa.
Kecintaan kami pada bunga dan tanaman hias, mendapat hasil yang luar biasa dari tanaman hias dan bunga.
Mereka ada ketika kita membutuhkannya
Bunga...
Ternyata mempunyai waktu untuk berkembang.
Karena areal bunga harus kami bangun garasi mobil Nissan Grand Livina yang baru kami beli. Maka.... Green House kami berikan ke tetangga yang mempunyai areal agak luas.
Pohon pohon tanaman hias dan bunga kami berikan ke tetangga sekitar rumah.
Hasilnya ? Lima belas menit, areal sudah bersih sih sih
Rata, bersih dan lapang
Sementara itu
Sebagai bagian dari kecintaan terhadap bunga dan tanaman hias Isteri saya masih menyisakan beberapa tanaman.
Untuk mengingat beberapa tahun kami telah hidup dari jualan bunga
Bunga....
Hari ini, beberapa tanaman itu berbunga lagi.
Kami masih menikmati dengan senang hati.
Apa yang bisa kita tarik maknanya dalam perjalanan panjang bunga ini?
Apapun usaha kita, jangan lupa selalu membuat keseimbangan.
Keseimbangan antara tetap terus berusaha apapun yang terjadi, serius dalam melaksanakannya, dan selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar rejeki selalu ada lingkup kita
Lalu....
Apakah usaha kami berhenti ?
Ternyata tidak...
Hidup harus terus berjalan.
Setelah garasi mobil jadi, lalu kami usaha tanaman jamur
Lah.... apa lagi ini
Saya akan kisahkan di cerita yang berbeda
JOKOWiN
Februari 2011
Selasa, Januari 18, 2011
Selasa, Juni 17, 2008
KURSI
Kursi ? Apa ada yang istimewa dari kursi ?
Eittt…… jangan keliru. Sekarang masanya pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota bahkan ada pilihan Lurah juga. Semua menjurus ke satu arah. Memilih kursi nomor 1.
Brarti ada kursi no 2, no 3, 4, 5, 6 dan sterusnya. Luar biasa….. kursipun punya nomor . Padahal gandengannya kursi adalah Meja. Brarti ada meja no 1,2,3,4,5,6,7,8 dan seterusnya. Alangkah bahagianya tukang mebeler. Mereka aka mendapat pesanan kursi dengan berbagai nomor. Ada nomor ada harga tentunya.
Kursi no 1 saat ini sedang banyak diperebutkan oleh banyak orang, banyak calon, banyak partai. Rebutan kursi yang kadang kadang hasilnya tak terduga.
Yang menang pesta pora dengan segala keramaiannya. Lalu menunggu pelantikannya.
Yang kalah ? Beberapa diantaranya menerima dengan lapang dada. Tapi banyak juga yang ngamuk, berlaku anarkis, banting kursi ( yang tentunya bukan kursi no 1 tadi khan…), banting meja, lempar batu, ngrusak pagar kantor pemerintah. Ngamuknya tidak etis, tidak statis, tetapi sangat dinamis. Saking dinamisnya, hari ini ngamuk disini, besok ngamuk disana, besoknya lagi ngamuk dimana mana….
Mungkin, inilah saatnya perlu muncul pengarang baru yang mampu dan bisa melukiskan amuk massa yang terencana dan terprogram dalam sebuah cerita nan panjang. Kalau dulu ada kisah Mahabarata dan Ramayana yang dikarang oleh para pengarang adiluhung dan mampu melukiskan peperangan antar kasta, peperangan antara yang baik melawan angkara murka. Sekarang, ada perang yang diwujudkan dalam ke-ngamuk-an yang sering ngawur, membabi buta, nggak tau aturan.
Padahal mereka yang ngamuk itu nantinya nggak dapat kursi lho. Kursinya bahkan sudah tak bernomor, mungkin kaki kursinya sudah retak dan patah. Jok kursinya sudah jebol, sandarannyapun sudah nggak tau ada dimana. Tapi masih juga digadang gadang dengan gaya meradang. Aneh memang…..
Ketika saya di SD, pada hari pertama sekolah, saya datang pagi pagi. Dengan harapan saya dapat meja dan kursi di depan. Dengan di depan, saya dapat mendengarkan ketika guru menjelaskan. Akan bertanya kalau kurang jelas. Dan biasanya duduk didepan akan lebih mendapat perhatian guru dibanding yang duduk dibelakang.
Jadi konsepnya memilih kursi harus yang pas, yang tepat. Memang, kalau bisa yang nomor 1. Memilih kursi paling depan, saya lakoni sampai saya lulus kuliah. Selalu berusaha yang terdepan, dengan segala cara yang masuk akal dan tidak menyakitkan teman. Hasilnya akan luar biasa…. Apalagi yang mengajar cantik, rasanya gak rugi duduk di depan. Memang enak duduk di kursi terdepan….
Mungkin konsep sederhana inilah yang membuat banyak orang ingin duduk di kursi no 1. Kursinya hanya satu, tetapi yang merebut sangat banyak. Lha apa yha mungkin duduknya umpel umpelan ….
Sekarang...
Saya sudah duduk di kursi yang lumayan enak di institusi tempat saya kerja. Walaupun belum di kursi no 1, minimal tempatnya sudah berdekatan. Gusti Alloh sampai saat ini sudah menganugerahi posisi yang baik bagi saya. Untuk kursi yang akan datang, hanya Gusti Alloh yang tahu. Yang jelas, itu semua sudah harus banyak disyukuri dan matur nuwun.
JOKO WiN
Juni 2008
Eittt…… jangan keliru. Sekarang masanya pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota bahkan ada pilihan Lurah juga. Semua menjurus ke satu arah. Memilih kursi nomor 1.
Brarti ada kursi no 2, no 3, 4, 5, 6 dan sterusnya. Luar biasa….. kursipun punya nomor . Padahal gandengannya kursi adalah Meja. Brarti ada meja no 1,2,3,4,5,6,7,8 dan seterusnya. Alangkah bahagianya tukang mebeler. Mereka aka mendapat pesanan kursi dengan berbagai nomor. Ada nomor ada harga tentunya.
Kursi no 1 saat ini sedang banyak diperebutkan oleh banyak orang, banyak calon, banyak partai. Rebutan kursi yang kadang kadang hasilnya tak terduga.
Yang menang pesta pora dengan segala keramaiannya. Lalu menunggu pelantikannya.
Yang kalah ? Beberapa diantaranya menerima dengan lapang dada. Tapi banyak juga yang ngamuk, berlaku anarkis, banting kursi ( yang tentunya bukan kursi no 1 tadi khan…), banting meja, lempar batu, ngrusak pagar kantor pemerintah. Ngamuknya tidak etis, tidak statis, tetapi sangat dinamis. Saking dinamisnya, hari ini ngamuk disini, besok ngamuk disana, besoknya lagi ngamuk dimana mana….
Mungkin, inilah saatnya perlu muncul pengarang baru yang mampu dan bisa melukiskan amuk massa yang terencana dan terprogram dalam sebuah cerita nan panjang. Kalau dulu ada kisah Mahabarata dan Ramayana yang dikarang oleh para pengarang adiluhung dan mampu melukiskan peperangan antar kasta, peperangan antara yang baik melawan angkara murka. Sekarang, ada perang yang diwujudkan dalam ke-ngamuk-an yang sering ngawur, membabi buta, nggak tau aturan.
Padahal mereka yang ngamuk itu nantinya nggak dapat kursi lho. Kursinya bahkan sudah tak bernomor, mungkin kaki kursinya sudah retak dan patah. Jok kursinya sudah jebol, sandarannyapun sudah nggak tau ada dimana. Tapi masih juga digadang gadang dengan gaya meradang. Aneh memang…..
Ketika saya di SD, pada hari pertama sekolah, saya datang pagi pagi. Dengan harapan saya dapat meja dan kursi di depan. Dengan di depan, saya dapat mendengarkan ketika guru menjelaskan. Akan bertanya kalau kurang jelas. Dan biasanya duduk didepan akan lebih mendapat perhatian guru dibanding yang duduk dibelakang.
Jadi konsepnya memilih kursi harus yang pas, yang tepat. Memang, kalau bisa yang nomor 1. Memilih kursi paling depan, saya lakoni sampai saya lulus kuliah. Selalu berusaha yang terdepan, dengan segala cara yang masuk akal dan tidak menyakitkan teman. Hasilnya akan luar biasa…. Apalagi yang mengajar cantik, rasanya gak rugi duduk di depan. Memang enak duduk di kursi terdepan….
Mungkin konsep sederhana inilah yang membuat banyak orang ingin duduk di kursi no 1. Kursinya hanya satu, tetapi yang merebut sangat banyak. Lha apa yha mungkin duduknya umpel umpelan ….
Sekarang...
Saya sudah duduk di kursi yang lumayan enak di institusi tempat saya kerja. Walaupun belum di kursi no 1, minimal tempatnya sudah berdekatan. Gusti Alloh sampai saat ini sudah menganugerahi posisi yang baik bagi saya. Untuk kursi yang akan datang, hanya Gusti Alloh yang tahu. Yang jelas, itu semua sudah harus banyak disyukuri dan matur nuwun.
JOKO WiN
Juni 2008
Rabu, Juni 11, 2008
BLANGKON
Blangkon ? Do you know?
Saya yang wong jowo, sangat familiar dengan blangkon. Bagi yang belum tahu blangkon, sederhananya blangkon adalah topinya wong jawa tempo dulu. Tetapi masih juga digunakan oleh orang tempo kini. Biasanya dipakai untuk acara acara yang bersifat tradisional maupun acara besar. Salah satunya acara Wedding, Pengantin maupun somebody want to married. Peran blangkon sangat signifikan dalam acara pengantinan.Blangkon. Apa hubungannya dengan Casing?
Untuk HP, computer, laptop casing sangat berperanan sehingga harganya menjadi mahal. Bagi kepala, blangkon bisa dilihat sebagai casing. Bentuk kepala yang lonjong, bulat, kurus, gemuk, gondrong, cepak, punk, plontos, botak, gundul, berambut standar semuanya bisa ditutupi oleh makhluk yang bernama blangkon. Kepala menjadi lebih bergaya. Dan bentuk kepalanya menjadi sama. Satu dengan yang lain menjadi sama. Hampir gak ada beda.
Berbincang blangkon, saya baru saja memakainya, setelah sekian lama gak pakai blangkon. Itupun saya gunakan karena ditempat pak bos saya, anaknya jadi pengantin. Saya dengan isteri menjadi penerima tamu. Penerima tamu ada 15 pasang. Semua pakai blangkon, sedangkan isteri pakai baju dan kebaya seragam. Artinya dapat jatah dari yang empunya gawe. Wah seru banget. Pakai pakaian jawa dan pakai keris lagi. Persis Ken Arok mau maju perang. Gagah, garang, kuat, tapi jalannya iplik iplik karena selopnya kekecilan…..
Berbincang blangkon, saya jadi teringat ketika kuliah S1 di IKIP Yogyakarta Hadiningrat. Saya yang orang jurusan teknik harus menjadi ketua unit kegiatan Tari dan Karawitan IKIP. Wadawww….. semua jadi aneh.
Saya yang biasa diskusi tentang konstruksi bangunan tiba tiba harus bercengkrama dengan gamelan, tarian yang lembut dan lemah gemulai. Jadi ? ya nikmati aja, kan yang menari cantik cantik, masih muda dan powerfull.
Waktu itu, saya jadi sering pakai blangkon karena sering pentas kemana-mana. Saya, yang katanya mbah saya pinter main gamelan, jadi sering menabuh gamelan sambil mengiringi penari yang cantik cantik tadi.
Hari itu, saya baru merasa bahwa setiap orang punya potensi, hanya perlu digali. Walaupun tidak sesuai dengan bidang pendidikan yang dijalaninya. Kemampuan mengorganisasi kegiatan merupakan cikal bakal untuk meraih pengorganisasian yang lebih besar dimasa mendatang. Jadi, kemampuan sekecil apapun, perlu diberdayakan agar menjadi optimal. hal ini sejalan dengan pendapat James L Gibson yang ahli SDM dan organisasi, pemberdayaan menjadi motor penggerak untuk kemajuan institusi.
Sayangnya kegiatan Karawitan dan Tari ini harus berhenti setelah kuliah. Bahkan ketika kuliah di S2 UGM Jogja dan S3 di Unibraw Malang, saya gak bisa main gamelan di kampus lagi. Karena pura puranya sibuk belajar agar kuliah cepat kelaaarrrr…..
Hari ini,
Ketika saya lihat foto saya pas pakai blangkon, saya jadi tertawa sendiri. Ternyata poto saya persis pemain wayang yang lagi mau naik pentas. Sayangnya saya sudah gak bisa menari lagi. Sudah kegemukan. Sudah gak pantas jadi Baladewa lagi. Pantasnya jadi bapak rumah tangga saja….
JOKO WiN
Juni 2008
Minggu, April 13, 2008
AKIL BALIQ

Akil Baliq, artinya dewasa. Masa meninggalkan masa kanak kanak menuju masa kedewasaan. Setiap orang selalu melaluinya. Hidup itu pilihan, akil baliq itu keharusan.
Mengapa saya bahas akil baliq?
Saya tuliskan, karena hari ini, 11 April 2008 merupakan hari ulang tahun anak saya yang ketiga, Bagus, tepat berumur 14 tahun. Saya pikir dengan duduk di kelas 2 SMP sudah saatnya saya memberi penjelasan padanya apa artinya akil baliq, kedewasaan. Tugas saya sebagai Ayahnya untuk menjelaskan semuanya. Walau saya tahu, pelajaran biologi di sekolah mungkin sudah menjelaskan kearah sana, tapi saya berusaha untuk menjelaskan sejelas jelasnya. Saya sedang mencari hari yang baik untuk menjelaskan semuanya.
Sore ini pas ada karnaval lampion di kota Malang, saya sekeluarga dan saudara saudara melihat. Sambil menunggu karnaval yang belum lewat, Bagus saya ajak duduk ditempat terpisah dari ramainya orang. Disudut Bank Permata, kami duduk diatas pipa pembatas parkir kendaraan. Sementara isteri saya masih asyik cerita dengan saudara saudara yang diajak serta. Itulah saat yang bersejarah untuk anak saya ke tiga. Saya jelaskan tentang masa remaja, sperma, nafsu, mimpi basah, dorongan seksual serta bagaimana menanggulanginya. Juga saya singgung tentang hubungan dengan perempuan, teman sekolah, menstruasi yang ada kaitannya dengan bergaul dengan lawan jenis. Bahkan anak saya juga cerita bahwa, dia juga sudah mendapatkan info semacam itu dari internet, sehingga pemahamannya jadi lebih dewasa. Akibatnya, diskusi berjalan dengan baik dan lancar. Bahkan saya juga mendiskusikan peran internet sesuai dengan umur yang dijalaninya, karena saya tidak mungkin mengawasinya sepanjang menit. Plong sudah kewajiban saya sebagai Ayahnya untuk menginformasikan semua itu.
Tiba tiba pikiran saya berjalan dan melayang kearah 34 tahun yang lalu. Ketika saya berumur seusia Bagus anak saya, dan masih SMP, tidak ada penjelasan sexual dari orang tua saya. Pada saat itu, sex masih dianggap tabu, sangat tabu. Akibatnya saya hanya menjalani mimpi basah seperti apa adanya. Tanpa berani bertanya. Takut bila orang tua tersinggung. Bahkan , pada saat SMA, saya jadi mencuri curi waktu baca buku nick carter pinjaman teman, buku putih enny arrow pinjaman juga. Itupun sudah membuat badan panas dingin. Mau pacaran? Takut dari berbagai sudut. Jadilah, saya yang tidak mengerti tentang kedewasaan. Dewasa artinya badannya besar, tumbuh dan berkembang. Itu saja. Naif memang.
Beruntunglah, era anak anak sekarang. Masalah sexual bisa didapat dari mana saja. Salah satunya dari internet seperti yang sudah dilakukan anak saya. Bahkan orang tuanya bisa diajak diskusi seperti yang sudah saya jalani. Semoga semuanya bermanfaat bagi dia mulai saat ini sampai saat nanti.
Tiba tiba suara sirine polisi berbunyi, tanda karnaval lampion akan lewat. Saya gandeng tangan anak saya untuk berdiri, menuju pinggir jalan raya. Melihat karnaval lampion dengan semua keluarga. Terlihat lampion-lampion lampunya kelap kelip diiringi music ceria.
Kami sekeluarga gembira.
JOKO WiN,
11 April 2008
Mengapa saya bahas akil baliq?
Saya tuliskan, karena hari ini, 11 April 2008 merupakan hari ulang tahun anak saya yang ketiga, Bagus, tepat berumur 14 tahun. Saya pikir dengan duduk di kelas 2 SMP sudah saatnya saya memberi penjelasan padanya apa artinya akil baliq, kedewasaan. Tugas saya sebagai Ayahnya untuk menjelaskan semuanya. Walau saya tahu, pelajaran biologi di sekolah mungkin sudah menjelaskan kearah sana, tapi saya berusaha untuk menjelaskan sejelas jelasnya. Saya sedang mencari hari yang baik untuk menjelaskan semuanya.
Sore ini pas ada karnaval lampion di kota Malang, saya sekeluarga dan saudara saudara melihat. Sambil menunggu karnaval yang belum lewat, Bagus saya ajak duduk ditempat terpisah dari ramainya orang. Disudut Bank Permata, kami duduk diatas pipa pembatas parkir kendaraan. Sementara isteri saya masih asyik cerita dengan saudara saudara yang diajak serta. Itulah saat yang bersejarah untuk anak saya ke tiga. Saya jelaskan tentang masa remaja, sperma, nafsu, mimpi basah, dorongan seksual serta bagaimana menanggulanginya. Juga saya singgung tentang hubungan dengan perempuan, teman sekolah, menstruasi yang ada kaitannya dengan bergaul dengan lawan jenis. Bahkan anak saya juga cerita bahwa, dia juga sudah mendapatkan info semacam itu dari internet, sehingga pemahamannya jadi lebih dewasa. Akibatnya, diskusi berjalan dengan baik dan lancar. Bahkan saya juga mendiskusikan peran internet sesuai dengan umur yang dijalaninya, karena saya tidak mungkin mengawasinya sepanjang menit. Plong sudah kewajiban saya sebagai Ayahnya untuk menginformasikan semua itu.
Tiba tiba pikiran saya berjalan dan melayang kearah 34 tahun yang lalu. Ketika saya berumur seusia Bagus anak saya, dan masih SMP, tidak ada penjelasan sexual dari orang tua saya. Pada saat itu, sex masih dianggap tabu, sangat tabu. Akibatnya saya hanya menjalani mimpi basah seperti apa adanya. Tanpa berani bertanya. Takut bila orang tua tersinggung. Bahkan , pada saat SMA, saya jadi mencuri curi waktu baca buku nick carter pinjaman teman, buku putih enny arrow pinjaman juga. Itupun sudah membuat badan panas dingin. Mau pacaran? Takut dari berbagai sudut. Jadilah, saya yang tidak mengerti tentang kedewasaan. Dewasa artinya badannya besar, tumbuh dan berkembang. Itu saja. Naif memang.
Beruntunglah, era anak anak sekarang. Masalah sexual bisa didapat dari mana saja. Salah satunya dari internet seperti yang sudah dilakukan anak saya. Bahkan orang tuanya bisa diajak diskusi seperti yang sudah saya jalani. Semoga semuanya bermanfaat bagi dia mulai saat ini sampai saat nanti.
Tiba tiba suara sirine polisi berbunyi, tanda karnaval lampion akan lewat. Saya gandeng tangan anak saya untuk berdiri, menuju pinggir jalan raya. Melihat karnaval lampion dengan semua keluarga. Terlihat lampion-lampion lampunya kelap kelip diiringi music ceria.
Kami sekeluarga gembira.
JOKO WiN,
11 April 2008
Kamis, April 10, 2008
DARAH
Kalau mendengar kata ‘Darah’, seringkali terasa sesuatu yang mendebarkan didada kita. Sesuatu yang berkonotasi negativ, mengerikan, menakutkan. Kalau bisa dihindari. Padahal dalam tubuh kita terdiri dari struktur darah, merah dan putih. Persis bendera Negara Indonesia.
Darah sebagai bagian dari 75 prosen cairan yang ada dalam tubuh kita, mempunyai fungsi yang sangat penting. Orang yang terkena gangguan pada darahnya, dijamin akan ada gangguan dalam tubuhnya. Banyak cara yang ditempuh oleh banyak orang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya dengan sangat menjaga keseimbangan darahnya. Olah raga, minum suplemen, periksa rutin ke dokter, minum obat tradisional, minum jamu, fitness, dan masih banyak lagi cara yang ditempuh.
Berbincang tentang darah, saya mempunyai pengalaman yang mendebarkan. Tahun 2000 saya mendapat souvenir dari nyamuk aedes agepty, yaitu Demam Berdarah. Saya periksa ke dokter. Karena ketidak tahuan saya saya tentang DB, ternyata saya sudah dalam kondisi DB kronis. Saya harus opname di Rumah Sakit. Saking kronisnya, saya harus mendapat infus dari sebanyak 5 orang pendonor. Gampangnya, darah segar dari pendonor, diputar putar dengan alat, terus didapat sari patinya. Bentuknya seperti saus tomat. Saus ini, disuntikkan dalam tubuh saya semalaman. Sakitnya, nggak ketulungan… Akhirnya saya bisa sembuh dan hidup sampai hari ini. Pertanyaannya adalah, siapa 5 orang pendonor tersebut? Tidak pernah ada yang mengaku. Sampai sekarang, saya tidak pernah mengetahuinya siapa yang telah menyambung nyawa dan hidup saya.
Mungkin, kemudahan saya mendapatkan mendapatkan pendonor tidak lepas dari perilaku saya selama ini. Sejak tahun 1993 sampai hari ini, April 2008, saya telah mendonorkan darah saya sebanyak 46 kali. Golongan darah B yang saya punyai telah diambil mulai 250 cc sampai 450 cc tiap 3 bulannya. Dengan senang hati saya menjalaninya.
Saya mendonorkan darah dimulai dari kejadian luar biasa yang menggerakkan hati dan pikiran saya. Pagi itu saya mengendarai mobil dan mendengarkan radio. Di radio diumumkan ada seorang bayi yang baru lahir mengalami kelainan dan membutuhkan seorang pendonor. Darah yang dibutuhkan golongan darah A. Tiba tiba hati saya mendidih, andaikan saya bisa menolong bayi yang belum punya dosa itu… Akhirnya mobil saya belokkan ke PMI, siap gak siap saya mau donor darah. Cerita bayi sakit telah menggerakkan saya dari kedalaman pikiran dan perbuatan tingkah laku selama ini. Alhamdullillah, dengan donor darah, saya sehat selama ini. Saya menyederhanakannya dengan menganggap donor darah sebagai tune up atau ganti olie. Olie lama diganti dengan olie baru. Pasti lebih sip dan tokcer.
Kesimpulan yang bisa saya tarik adalah, berbuat baik itu tidak perlu dipikir. Laksanakan saja. Pada saatnya nanti, ketika kita menemukan masalah, buah kebaikan datangnya dengan seketika juga.
JOKO WiN
April, 2008
KASET
Kalau berbincang tentang kaset, saya selalu teringat saat saat di toko kaset. Saya termasuk orang yang gatal tangan. Artinya tidak bisa diam tangannya kalau lihat kaset dengan cover bagus. Selalu saya lihat judul kasetnya, lalu lihat juga harganya. Maklum keterbatasan kantong selalu menjadi kendala. Walau seringkali, pokoknya beli.
Kaset banyak ragamnya. Ada yang covernya pakai box, ada juga yang softcover. Artinya covernya langsung didalam boxnya. Semua dalam bentuk yang sama, isinya sama. Hanya kemasan luarnya yang berbeda. Dan, isi suara musiknya, sama saja.
Pada dasarnya cover kaset sama seperti pakaian yang kita pakai sehari hari. Menutupi bagian dalamnya. Menutupi hal hal yang seharusnya ditutupi. Pertanyaannya adalah, sejauhmana cover itu dipergunakan? Bisa untuk menutupi sehingga menjadi lebih bagus, bahkan bisa menjadi sebaliknya. Makin kusam dan amburadul. Pertanyaan sederhana tetapi lama menjawabnya.
Menurut Kotler yang ahli pemasaran itu, packaging atau kemasan merupakan daya tarik untuk menggaet customer. Karena kemasan yang indah akan meningkatkan nilai dan derajat produk. Jadi, terlihat betapa pentingnya nilai kemasan dalam bentuk apapun juga. Cover merupakan bagian dari kemasan. Pakaian yang kita pakai, Bungkus barang, Cover buku bacaan, Cat rumah, Korden rumah, Cover referensi, bahkan sampai Tutur kata yang baik. Semua merupakan kemasan untuk menggaet calon customer.
Saya jadi ingat ketika saya masih muda dulu. Pernah putus cinta. Biasalah, Cinta Monyet. Ternyata penyebabnya sederhana. Saya gak bisa ngomong romantis. Gak bisa mengungkapkan dengan kata kata yang indah. Gak suka memuji tentang kecantikannnya maupun segarnya bau harum parfumnya. Karena saya orang yang lugu, ya saya nikmati cinta monyet dengan apa adanya. Tanpa dikemas dalam romantika Saijah – Adinda, Roromendut – Pranacitra, Romeo – Yuliet. Akibatnya? Ya putus tadi. Saya jadi sadar bahwa berpacaranpun perlu kemasan. Perlu packaging yang sesuai. Agar aroma romantika bisa tercapai.
Beberapa saat lalu, saya membeli kaset Badai Pasti Berlalu. Lagu-lagunya kebanyakan karangan Eros Jarot ketika belum menjadi politikus. Saya sangat suka lagu lagu didalamnya. Menyampaikan sesuatu dengan cara yang berbeda. Sekitar tahun 1978 kaset ini dirilis, 25 tahun kemudian dirilis lagi persis sesui dengan aslinya. Amazing !!. Aransemen menjadi lebih indah. Penyanyi melagukannya dengan masa kekinian.
Siang ini, ketika saya masuk toko kaset, terpampang CD ( Compact Disk) Badai Pasti Berlalu yang merupakan sound track film dengan judul yang sama. Packagingnya bagus. Saya beli juga. Saya dengarkan. Luar biasa, semua lagu dirilis ulang lagi dengan aransemen yang lebih bagus. Lebih ngepop.
Lagu jadi sebuah packaging yang luar biasa…..
JOKO WiN
April, 2008
Kamis, November 15, 2007
PENSIL
PENSIL. Semua orang tahu tentang pensil.
Mulai anak anak TK sampai yang sudah bekerja tidak akan pernah melupakan pensil.
Dalam tataran belajar pertama kali ketika di TK, kita diberi pensil oleh Bu Guru TK sebuah pensil untuk menulis atau tepatnya menggambar apa saj
Hasilnya ? Sebuah lukisan benang ruwet. Sangat Ruwet.
Lalu dengan kecerdasan yang kita miliki, kita mampu menjelaskan dan menterjemahkan lukisan tersebut dengan berbagai cerita.
Cerdas kita melebihi profesor manapun.
Sekarang, ketika saya sudah bekerja dan sering workshop dari hotel ke hotel, selalu mendapat pensil hotel. Pensil dengan label hotel.
Pensil pensil tersebut selalu saya simpan. Saya sering mendapat banyak pensil. Karena banyak peserta workshop yang tidak mau membawanya.
Saya "angkut" pensil pensil tersebut. Kadang 5 sampai 10 buah pensil bisa saya bawa pulang sehabis workshop. Jumlahkan saja kalau berkali kali saya workshop di hotel. Lalu, untuk apa pensil tersebut ?
Saya punya anak yang hobby menggambar.
Saya punya anak yang sedang kuliah di desain komunikasi dan visual
Saya punya keponakan yang masih sekolah di SD
Saya punya keponakan yang masih sekolah di TK
Saya punya saudara saudara yang masih sekolah
Semua butuh pensil !!!! Apalagi diberi pensil dan pensilnya berlabel hotel.
Wooowwwww.... kelihatan senangnya wajah mereka bila mereka menerimanya. Karena Pensil standar mudah mencarinya. Pensil berlabel hotel, tidak biasa ada di kotak mereka.
Dulu ketika saya masih anak anak, pensil merupakan barang yang sangat berharga. Seringkali sebuah pensil saya bagi dengan adik saya agar kami bisa punya pensil bersama. Sebuah pensil dengan tulisan made in China 2B. Separoh bagian saya, separoh bagian adik saya. Pensil bagian saya, kedua ujungnya saya serut agar lancip semuanya. Sehingga saya bisa menggunakannya atas bawah untuk berbagai keperluan. Ya untuk menulis. Ya untuk menggambar. Rasanya, bangga sekali punya pensil yang banyak gunanya.
Setiap hari pensil saya serut. Setiap hari pensil saya elus elus agar gak mudah putus ujungnya. Setiap hari pensil saya masukkan kedalam kotak pensil yang terbuat dari kayu. Klotak klotak bunyinya....
Sekarang....
Jaman sudah berganti. Tidak ada lagi ceritanya menggunakan pensil separoh. Apalagi diserut kedua ujungnya
Hari ini ...
Pensil dirumah saya tinggal sedikit. Saya masih berusaha. Agar workshop berikutnya di hotel yang berbeda. Lalu mendapat pensilnya. Sehingga ...Pensilnya menjadi penuh warna. Dan... Keponakan saya selalu gembira, karena selalu menerima pensil dari saya.
Bukankah membuat gembira dan senang orang lain juga menyenangkan jiwa kita....
Joko WiN
November 2007
BUKU
Buku. Sebuah kata yang mempunyai makna yang luar biasa.
Saya termasuk pecinta buku. Bukan berarti Kutu Buku. Seringkali saya membeli buku tidak selalu dalam subjek tertentu. Dan selalu saya baca.
Buku yang kelihatannya menarik packagingnya, biasanya saya beli. Tentunya yang dengan harga terjangkau.
Isteri saya suka buku, saya suka buku, anak anak suka buku.
Jadi di rumah, buku menjadi barang yang ada dimana mana. Di rak buku, di bawah rak TV, di kamar tidur, semua bisa didapatkan buku buku.
Pengalaman mengajarkan membeli buku mudah, merawatnya yang susah.
Ketiga anak saya semuanya suka buku. Waktu libur tiba, entah hari minggu maupun sekolah libur semesteran, berarti jatah saya untuk membelikan buku. Disatu sisi saya harus rogoh saku. Disisi lainnya saya amat bangga, katena anak anak suka membaca buku. Karena tidak mudah menimbulkan minat baca pada anak anak. Apalagi buku ensiklopedi sudah menjadi santapan mereka.
Berbincang masalah buku, saya pernah merasa kecewa dan malu. Di institusi tempat saya kerja, saya mengusahakan penulisan modul yang sudah dilakukan teman teman menjadi sebuah buku. Saya ketemu dengan salah satu penerbit buku kondang dari Yogyakarta. Saya ajukan modul sebanyak 70 judul. Setelah dikoreksi, disetujui 35 judul.
Setelah diskusi berkali kali, Institusi saya diberi kesempatan. Untuk tahap awal akan dicetak 7 judul bidang automotif.
Dari penerbit saya diberi CD karya tulis teman teman untuk dikoreksi kembali selama 2 minggu. CD Saya distribusikan ke mereka. Hasilnya? 2 bulan tidak ada sentuhan satu teks pun dari teman teman sebagai penulis. Sementara peta pendidikan dan kurikulum berubah. Dan, bukunyapun gagal dicetak.
Akhirnya saya harus memohon maaf ribuan kali dengan harapan agar judul judul lainnya bisa dicetak. Karena, penerbit melihat, 7 judul saja tidak bisa menyelesaikan, apalagi 35 judul.... Sebuah pengalaman berharga. Dibalik kegagalan ini saya sadar bahwa niatan untuk membukukan modul menjadi buku tidaklah semduah yang saya pikirkan. Kebersamaan dan kesatuan pikiran harus diimplementasikan.
Saya tetap punya pendapat bahwa semua orang pasti punya kemampuan menulis. Sekecil apapun. Akhirnya saya sering mengundang penerbit dari Yogyakarta tadi untuk menjadi pembicara di berbagai workshop yang dirancang oleh institusi. Isinya adalah bagaimana menjadi penulis yang bukunya bisa layak cetak dan layak edar dan disertai dengan penghargaan yang setimpal. Workshop diimplementasikan untuk guru guru, mahasiswa, siswa maupun peserta pelatihan di tempat saya kerja. Hasilnya memang belum terlihat. Tetapi minimal saya telah berbuat.
Pertanyaan lainnya : Apakah saya juga menulis buku ?
Jawabannya sederhana: Ya !! Tapi belum selesai
Kita tidak hanya menjadi pembaca yang setia, setidaknya bisa mencurahkan apa yang ada dalam benak kita.
Seadanya...
Semampunya...
Joko WiN
November 2007
Langganan:
Postingan (Atom)


