Selasa, Maret 22, 2011

CARA MENYIKAT GIGI


Seorang dokter muda dari kota melakukan penyuluhan kesehatan di suatu desa. 
Kepada penduduk desa yang sudah berkumpul di halaman puskesmas, dokter itu berkata, "Menjaga kesehatan diri sendiri dimulai dari bagaimana menjaga kesehatan mulut."

Lalu dokter itu menoleh ke sekumpulan bapak-bapak.
"Saya ingin tahu, seberapa sering bapak-bapak menggosok gigi?"
 
Warga 1 : (agak malu-malu) "Kalo saya sih cukup sekali sehari."
 
Warga 2 : "Payah! Saya 3 kali sehari."

Dokter : "Bagaimana perhitungannya?"

Warga 2 : "Pagi hari setelah sarapan, siang hari setelah makan, dan malam hari sebelum tidur."

Warga 3 : "Gitu aja sombong ... saya dong 12 kali!"

Dokter : "Wah ... itu bagaimana ngitungnya?"

Warga 3 : "Januari, Februari, Maret, ...." 


JOKOWiN
Maret 2011





UP DATE STATUS GRATIS : PAKAI THREE. MAU ?



Kejadian ini bermula ketika saya secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang Mie Ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah.
Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya.
Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.
Karena penasaran, saya pun bertanya :
"Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son.. mie ayamnya siji maning sooon.. heu heu"), sedang apa kok asik bener di pojokan mas?" tanyaku
"Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka bicara Jujur!, wkwkwkwk), ini mas, lagi update status!!..."
 
WADUH!!, kampret tenan !!!!!
 
"weehhh... sampeyan fesbuk-an juga to??" tanyaku heran
"Ya iyalah mas... masa hareee geneee ga fesbukan?!... .
Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass.. "
 
GLEK!! kalah lagi saya...

Saya yang sering naik Kereta ke Jawa aja gak tau kalo ada yg namanya Hermawan Kereta Jaya
"emang mas statusnya apa?" tanya saya penasaran
"nih mas aku bacain :
Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan... takutnya anda obesitas... segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi.
Mie Ayam Jason : Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya.."

GEDUBRAK!!

Dua kosong untuk mas jason...
Saya yg sudah lama fesbukan aja ga bisa bikin status se atraktif dia..
Tapi ada yg aneh pas kulirik ke henpon yang dia pakai,  aku kira henponnya blekberi atau minimal nokia seri baru yang sudah bisa pake internetan
Selidik punya selidik, ternyataa... henponnya lawas bin jadul...
HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM
"mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas). Gimana caranya??
"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri, jawab dia datar
"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?"
" Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati...
Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam!
Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya,
Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. 
Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali... murah to..."
 

Mendadak kepalaku pusing
Bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga, aku limbung mendengar jawaban spektakuler dari mas jason...

BRUK!!

"lho mas.. mas... jadi beli mie ayam ndak...kepriben iki?"



JOKOWiN
Maret 2011



Rabu, Maret 16, 2011

BAHASA MANDARIN : WHEN JAVA MEET CHINA



Bahasa Mandarin. Pasti banyak yang gak bisa. Pasti pula banyak yang bisa.
Saya termasuk yang gak bisa.

14 Maret 2011.
Saya mewakili Kepala kantor saya untuk menghadiri pembukaan pusat bahasa Mandarin di Universitas Negeri Malang.

Ketika acara dimulai dari awal sampai akhir, semua pakai bahasa Mandarin yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia.
Wah... serasa berada di negeri China.
Serasa melihat film silat China.

was wis wus bahasa china.
Padahal saya taunya cuma no pek nggo, nggo pek, se ceng... jadi yha gak nyambung blas.
Untungnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jadi yha lumayan lah

Seharusnya ada pembicara yang menarik, yang juga penggagas dan membantu berdirinya pusat bahasa Mandarin di UM, yakni pak Dahlan Iskan, bosnya (CEO) koran Jawa Pos sekaligus dirut Pertamina sekarang ini. sayangnya pak Dahlan harus rapat terbatas dengan presiden SBY, jadi pembicaraanya dilakukan melalui Teleconference, dari Jakarta ke Malang.

Ada yang menarik.

Ketika pak Dahlan memulai pembicaraannya, menanyakan ke audience, terutama ke para mahasiswa yang hadir :
Berapa umur Anda sekarang ?
Apa yang Anda pikir 10 tahun yang lalu?
Apa yang Anda pikir 10 tahun kedepan?

Wahhhhhh..... ini pertanyaan cerdas dari pak Dahlan.
Seringkali kita sulit membayangkan masa depan.
Apalagi dikaitkan dengan ekonomi, sebagai bagian pertanyaan berekor dari pak Dahlan.

Jadi?
Seringkali kita what ever will be, ya will be lah....
Kepentingan pemikiran kita, sering nggak terjangkau.
Memang, pikiran harus dilandasi dasar yang jelas.
Apa kita punya?

Di akhir acara...
Ada tarian Jawa yang digelar.
Saya menikmati tarian tersebut.

Sambil makan kue lemper yang disuguhkan oleh panita.....

JOKOWiN
Maret 2011

Selasa, Maret 08, 2011

BAHASA INGGRIS : DAY AND NIGHT

Bahasa Inggris, semua pasti sudah kenal.
Bahkan wajib hukumnya untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain.


Hari ini saya akan berbagi ilmu, walaupun kelihatannya sederhana, tentang AM dan PM.
Seringkali penggunaan AM dan PM menjadi rancu karena dalam bahasa Indonesia tidak biasa dipergunakan.

Saya temukan dalam situs
http://www.englishclub.com/vocabulary/time-day-night.htm

disitu dijelaskan dengan cara sederhana tentang Day and Night. Semoga copy-an tentang Day and Night ini ada manfaatnya.

.........

There are 24 hours in a day.

The day is divided into "day(time)" and "night(-time)".

Daytime is from sunrise (this varies, but we can say approximately 6am) to sunset (we can say approximately 6pm). Night-time is from sunset to sunrise.

Every day starts precisely at midnight.

AM (Ante-Meridiem = before noon) starts just after midnight.

PM (Post-Meridiem=after noon) starts just after midday.

This means that 12am and 12pm have no meaning.

This diagram shows the cycle of a 24-hour day and the words we use to describe its parts.

The day starts at midnight (at the bottom of the diagram).


Semoga info kecil ini bermanfaat...


JOKOWiN

Maret 2011

Minggu, Maret 06, 2011

PASAR : KENANGAN DAN DIXIE COUNTRY

Pasar, sebuah kata sederhana.
Siapapun pasti pernah masuk kedalamnya.
Pasar telah melalui masa-masa berwarna warni.


Pagi ini...
Saya bersepeda dari Singosari ke arah utara.
Jalan terus menanjak sampai Lawang.
Saya berhenti di depan pasar Lawang.
.....



20 tahun yang lalu saya sering jalan jalan bersama isteri dan anak anak ke pasar ini.

Saat itu saya merasa inilah pasar yang sangat komplit.
Banyak pakaian, makanan dan sayuran.
Semua murah.

Pernah anak saya yang pada saat itu masih TK meminta kue benang.
Sambil menangis nangis, pokoknya kue benang.
Sepanjang jalan, penjual kue kami masuki.
Akhirnya ketemu juga.
Apa itu kue benang?
Ternyata gethuk yang warna warni dengan bentuk seperti benang..... e alah...

Sering kami melihat film digedung film samping pasar.
Gedung dengan kapasitas 200 orang.
Ukuran yang sangat besar.
Apapun judul film nya gak masalah.
Yang penting lihat film, menghibur diri.

Sekarang gedung film tersebut sudah tidak ada.
Kalah dengan penjualan film CD yang diputar di VCD
Kalah dengan bergulirnya teknologi kekinian.
Sedangkan pasar makin diperbaharui.
Namanya saja menjadi pasar Lawang Baru.
Baru bangunannya, lama penjualnya.
Isinya tetap sama dengan yang dulu.
Kulturnya gak berubah.
Justru diluar pasar banyak orang berjualan.
Kenikmatan membeli didalam pasar menjadi tak terasa lagi.
Didalam pasar sepi, diluar pasar ramai.
Terbalik situasinya.
Semua menjadi tipikal pasar tradisional di Indonesia.

Saya sudah tidak lagi menjadi orang yang setia ke pasar tradisional.
Sekarang banyak bermunculan pasar modern di mall-mall.
Yang dijual sama dengan pasar tradisional, bahkan lebih komplit.
Suananya enak, bersih, bahkan ber AC...
Itulah hati.
Tidak bisa dipaksa untuk selalu ke satu aktivitas

....

Pagi ini
Saya berhenti didepan pasar Lawang.
Mengenang saat saya pernah setia belanja didalamnya sambil tamasya.
Tiba tiba ada pengamen jalan.
Saya keluarkan uang disaku, lalu saya minta mereka memainkan lagu.
Dengan Gitar, Biola dan Banjo
Meluncurlah lagu berirama Dixie Country
Lagu ciptaan mereka sendiri.
Kita jadi menggoyang kaki suka suka.


Ketika lagu sudah selesai, saya ayunkan kaki, mengayuh sepeda.

Meninggalkan pasar Lawang dengan banyak kenangan.
Sambil sayup sayup saya masih dengarkan.
Lagu Dixie dikejauhan
.......


JOKOWiN
Lawang, Minggu 6 Maret 2011

Sabtu, Maret 05, 2011

SEPEDA : BERKAWAN DENGAN SEJARAH

Sepeda....
Saya sudah membeli sepeda lipat merk "Downtube Nova".

Sesuatu yang pada awalnya sulit saya bayangkan.
Karena sepeda tersebut merupakan sepeda lipat, teknologi baru, masih new release, dan yang pasti harganya merogoh kantong agak dalam.

Lalu....

Saya jadi teringat masa lalu.....

Mulai SMA sampai Perguruan Tinggi saya selalu memakai sepeda.

Sepeda pancal, sepeda onthel dan bukan sepeda motor.

Sepeda perempuan di SMA

Semasa SMA di tahun 1976 - 1979 saya memakai sepeda onthel yang orang bilang saat ini merupakan sepeda tempo doeloe.

Sepeda milik bapak saya ada dua, sepeda laki laki, karena ada palangnya ditengah, dan sepeda perempuan karena gak ada palangnya ditengah sepeda.

Sepeda sepeda tersebut kalau dijalankan bunyinya klitik klitik tanda lancar jalannya.

Agar sepeda selalu cling, kalau membersihkan agar mengkilap selalu memakai semir.

Setiap hari sepeda saya pakai
.
Seringkali saya gantian dengan sepedanya bapak.
Pas bapak gak pakai, sepeda saya pakai.
Saya ingin kelihatan gagah dengan sepeda laki lakinya.

Itu berlangsung bertahun tahun.

Sepeda perempuan yang saya pakai kadang kadang suka menjengkelkan.

Sehari hari kalau saya pakai, lancar lancar saja.

Tapi pas untuk menggonceng cewek, seringkali rantainya lepas alias loss.
Jadinya, acara nggonceng menggonceng jadi terganggu
( yang harus saya ingat : cewek yang sering saya gonceng tersebut sekarang jadi isteri saya, dan telah melahirkan 3 anak laki laki hahahahahaaaaaaa )


Lalu

Tibalah saat itu...

Sepeda laki laki bapak yang sangat disayanginya harus dijual.

Karena untuk memenuhi kebutuhan makan bapak, ibu dan 5 anak anaknya.

Saya melihat betapa bapak sangat sedih waktu itu.

Bapak yang seorang guru Sekolah Dasar harus merelakan sepeda kesayangannya....


Lalu...

Sepeda yang biasa saya pakai, akhirnya dipakai bapak.

Agar sebagai seorang guru tidak terlambat mengajar murid muridnya.

Perjuangan bapak, darma bakti yang tidak bisa diukur dengan materi

Kebetulan...

Pada saat itu kakak saya sudah lulus sarjana muda dari IKIP Surabaya.

Sepeda jengki yang tidak baru kondisinya yang selama ini dipakai, dibawa pulang kerumah.
Saya akan menjadi penerusnya...

Sepeda Jengki di saat kuliah

Ketika saya kuliah di Jogja, tahun 1979 - 1983 sepeda jengki tersebut menjadi teman setia.
Pulang pergi kuliah, mengitari kota Jogja, bimbingan skripsi, sepeda jengki menjadi kawan setia.
Banyak teman bersepeda motor, tapi saya harus tau diri, bangga dengan yang saya miliki.
Sampai lulus, sepeda jengki tersebut tetap saya pakai.
Bahkan...
Setelah lulus, saya bersepeda dari Jogja ke Madiun tempat asal saya.
Sendirian.

Bersepeda pancal.

Berangkat dari Jogja jam 11 malam, sampai di Madiun jam 6 sore hari berikutnya.

Tekad yang kuat membawa saya bisa sampai dirumah dengan selamat....







 Lalu...
Sepeda tersebut saya taruh di rumah Madiun.

Selanjutnya dipakai adik saya kuliah di Madiun
.
Kadang kadang...
Sering sepeda jengki tersebut saya pakai atau bapak pakai.

Untuk mengenang saat saat yang pernah dialami.
Setelah adik saya lulus...

Sekarang sepeda tersebut digantung di gudang.




Sejalan dengan usia dan keguanaannya, sepeda jengki tersebut layak dapat bintang.
Telah membawa kakak saya lulus kuliah.

Menghantarkan saya lulus kuliah.

Juga menghantarkan adik saya lulus kuliah....


Sekarang
Saya telah membeli sepeda pancal Merk Downtube versi Nova keluaran terbaru.

Bentuknya yang sepeda lipat, membuat dengan mudah bisa dibawa kemana mana.
Bisa dimasukkan dimobil kalau kita bepergian.
Atau
bisa dilipat dan dipanggul kalau melewati persawahan.
Beratnya yang hanya 10,6 kg membuat badan makin sehat.


Jaman memang sudah berganti.

Tetapi kenangan akan perjuangan orang tua, saya yang bersepeda sejak dulu kala tidak akan pernah lupa
.
Membuat kita menjadi selalu bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang.
Perjuangan atas hidup dan kehidupan memang harus berjalan.
Sejalan dengan usia yang terus merambat dan menua

JOKOWiN
Sabtu 5 Maret 2011

Selasa, Maret 01, 2011

DUA PRIA : PESONA KATA

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya dan untuk menormalkan jantungnya karena denyutnya sangat lemah.
Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.


Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Pria ini sering uring-uringan, bahkan tak jarang membentak anggota keluarga yang menjaga dan perawat yang memeriksanya.
Tak jarang pula pria yang satu ini bereriak di malam hari (mungkin karena kesakitan) sehingga mengganggu pasien yang lainnya.


Suatu hari di sore yang cerah, seperti biasa pria yang berada dekat jendela ini duduk.
Lalu dia melihat keluar jendela, sambil tersenyum dan dengan wajah yg gembira,
"Senang sekali ya seandainya aku bisa berjalan-jalan setiap sore di taman itu, tentunya aku tidak ingin kembali di tempat ini lagi." gumamnya sambil tetap terlihat tersenyum.

Melihat hal itu pria satunya yang berada di sebelah tempat tidurnya berkata dengan rasa penasaran,
"Apa yang kau lihat di luar sana?"


"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah.
Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam berwarnakan pelangi.
Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu.
Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah." jelas pria yang duduk


Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.
Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.


Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.
Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari.
Dan, satu minggu pun berlalu.


Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi.
Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.
Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah.


Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.


Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun.
Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu.
Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya?
Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!


Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

Perawat itu menjawab,
"Sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta, yang terserang penyakit sangat berat dan akut, bahkan untuk melihat tembok sekalipun dia tidak bisa."
lalu dengan tersenyum perawat itu berkata lagi,
"Barangkali ia ingin memberi anda semangat hidup, agar anda bisa lebih sabar untuk melawan penyakit" kata perawat itu.


Mendengar hal itu pria tadi berkaca-kaca.
Dia merasa sebagai orang yang cengeng, menyebalkan dan selalu menyusahkan orang bahkan kepada mereka yang ingin berbuat baik kepadanya.

Dan sejak saat itu pria itu tidak lagi suka marah-marah, tidak lagi berteriak meski kesakitan dan selalu tersenyum setiap melihat di luar jendela.
Mungkin dia tidak melihat apa-apa, tapi dia membayangkan cerita-cerita indah pria sebelahnya yang selalu menggambarkan keindahan di luar sana.



Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita.
Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal.

Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.
Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

( cuplikan dari cerita seorang teman )

JOKOWiN
Awal Maret 2011

JABAT ERAT PERSAUDARAAN : I cried for my brother six times


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya.
Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.
Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.
Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin.
Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku : "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku.
Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku.

Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya.
Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya makannya.
Sejak hari itu, aku bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu.
Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Sumber:
Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"
(Dari email seorang teman)


JOKOWiN
Awal Maret 2011


Senin, Februari 28, 2011

BUNGA : BAGIAN DARI REJEKI



Bunga...
Bagi sebahagian orang adalah hal yang biasa.

Tapi, tidak bagi saya dan keluarga saya.


Isteri saya termasuk makhluk Tuhan yang bertangan dingin.
Artinya, kalau menanam pasti tumbuh.
Apalagi hobinya menanam bunga.

Setiap tanaman bunga yang ditanam pasti tumbuh.
Menanam tanaman indoor plant atau tanaman hias dalam rumah juga salah satu hobinya.

Semua juga pasti tumbuh, hidup dan berkembang jumlahnya.

Kalau menanam doanya sangat sederhana, yakni :

" Kamu kalau nggak tumbuh, saya buang.....
!!! "
Eh semua tananam tumbuh.
Tentunya harus dipupuk, disiram dan dipelihara....


Bunga....

Kami banyak menyimpan kisah tentang bunga dan tanaman hias.

Karena isteri saya hobinya menanam, kami seriusi dengan membuat tempat menanam bunga.
Istilah kerennya Green House....
Di area Green House inilah, bunga dan tanaman hias kami kelola.
Bunga kami labeli dengan nama yang tak kalah keren : Mekarwangi
Artinya, berkembang dan makin harum kemana-mana
Jualan bunga.
Hasilnya? Lumayan.

Selain bisa mengembangkan hobi, juga mendapatkan uang.
Kalau jualan nggak laku hari ini, tanaman disirami lagi.

Asal nggak mati, pasti laku lagi.

Gusti Alloh memang Maha Luar Biasa.

Kami diberi rejeki dari hobi yang kami tekuni....


Bunga....
Jualan ini kami jalani beberapa tahun.

Saya nggak pernah merasa malu.
Isteri saya juga nggak pernah merasa malu.
Karena jualan ini Halal, bukan barang hasil curian, tapi barang hasil usaha.

Dari satu tempat ke tempat lain, pameran kami ikuti
Dari yang berskala kecil sampai yang berskala besar.

Dari sini kami belajar sesuatu.

Gusti Alloh membuka rahasia alam tentang tanaman.
Kalau kita berusaha mencintai alam, maka alam akan memberi kita hasil yang luar biasa.
Kecintaan kami pada bunga dan tanaman hias, mendapat hasil yang luar biasa dari tanaman hias dan bunga.
Mereka ada ketika kita membutuhkannya




Bunga...
Ternyata mempunyai waktu untuk berkembang.

Karena areal bunga harus kami bangun garasi mobil Nissan Grand Livina yang baru kami beli.
Maka.... Green House kami berikan ke tetangga yang mempunyai areal agak luas.
Pohon pohon tanaman hias dan bunga kami berikan ke tetangga sekitar rumah.

Hasilnya ? Lima belas menit, areal sudah bersih sih sih
Rata, bersih dan lapang

Sementara itu

Sebagai bagian dari kecintaan terhadap bunga dan tanaman hias
Isteri saya masih menyisakan beberapa tanaman.
Untuk mengingat beberapa tahun kami telah hidup dari jualan bunga


Bunga....

Hari ini, beberapa tanaman itu berbunga lagi.

Kami masih menikmati dengan senang hati.




Apa yang bisa kita tarik maknanya dalam perjalanan panjang bunga ini?
Apapun usaha kita, jangan lupa selalu membuat keseimbangan.
Keseimbangan antara tetap terus berusaha apapun yang terjadi, serius dalam melaksanakannya, dan selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar rejeki selalu ada lingkup kita

Lalu....

Apakah usaha kami berhenti ?

Ternyata tidak...

Hidup harus terus berjalan.
Setelah garasi mobil jadi, lalu kami usaha tanaman jamur

Lah.... apa lagi ini
Saya akan kisahkan di cerita yang berbeda


JOKOWiN

Februari 2011

Jumat, Februari 25, 2011

MENIKAHKAN TUTUKO : KEWAJIBAN ORANG TUA


Banyak hari bersejarah bagi orang-orang.
Banyak hari dianggap bersejarah, apapun itu alasannya.
Salah satu hari bersejarah bagi saya adalah : Menikahkan anak.
Kewajiban orang tua berupa melahirkan, merawat dan mengasuh, menyekolahkan, serta menikahkan.
Yang terakhir inilah yang baru saja saya kerjakan.
Mulai melamar 9 bulan yang lalu. Lalu 23 Januari 2011 midodareni, 24 jan diijabkan dan 25 Jan 2011 diramaikan pernikahannya di Graha ITS Surabaya.
Resmi sudah anakku Tutuko Ninar Noviyanto menikah dengan Prita Adinda Satwika.
Capek ?
Belum sodara sodara..
Seminggu kemudian, 30 Januari 2011 penganten berdua dilaksanakan Ngunduh Mantu dirumah kami, di Jalan Masjid Barat No. 1 Singosari Malang.
Acara dilaksanakan dirumah, dirancang seperti di Gedung.
Ada makanan
Ada Band Jazz Accoustic
Ada saudara-saudara
Ada tetangga
Ada tawa suka bersama
Semua komplit, campur baur jadi satu.
Capek ?
Tentu, tapi bahagia ....

Ketika pernikahan anak dilaksanakan, ada air mata bahagia disudut mata kami sebagai orang tua.
Semua mengalir begitu saja.

Anak anak yang dulu masih kecil kecil dan diasuh dalam suka dan duka.
Tiba tiba sudah menjadi dewasa.
Sudah mulai menggenggam dunianya.
Jadi...
kami harus rela untuk melepasnya
mereka akan menjadi dewasa dalam langkah yang diambilnya.

Dibalik itu...
Saya jadi berfikir jauhhhhh kebelakang
Orang tua kami dulu pasti mengalami hal yang sama.
Antara kasih, sayang dan tega untuk melepaskannya ke dunia nyata.
Toh beliau bisa melaksanakannya.
Jadi kami juga harus bisa menjalaninya juga

Jadi...
Selamat menempuh hidup baru anakku.
Rengkuh dan Raih masa depanmu.
Doa kami selalu bersamamu


Ayah dan Ibu
Februari 2011




Jumat, Februari 18, 2011

WISUDA NINAR : ADA YANG BERBEDA


Kali ini wisuda saya bahas lagi.
Anak nomor dua sudah selesai kuliahnya.

Wisuda sudah dilaksanakan dengan sempurna.
Menjadi Sarjana Seni ( SSn) dari Universitas Negeri Malang. Dengan jurusan Disain Komunikasi dan Visual (Diskomvis).

Banyak hal yang bisa diungkapkan dari wisuda kali ini.
Anak pertama sudah sele
sai kuliah dan wisuda sekian tahun yang lalu.


Anak nomor dua menjalani wisuda dalam format yang berbeda.
Karena anakku yang biasanya gondrong dan kriwul rambutnya, hari wisuda ini menjadi anak yang sangat rapi, karena wisuda artinya potong rambut yang sudah 4 tahun gondrong sebagai ciri khasnya.

Kelihatan aneh memang.

Ada kalanya ciri khas menjadi salah satu kekuatannya.
Dengan kekriwulannya, wajahnya jadi mirip penyanyi Giring dari grup band Nidji.

Apalagi dia juga suka nyanyi.
Jadi klop lah...
.

Wisuda berarti sudah lulus kuliahnya.

Saya memang berharap, anakku lulus dahulu dibanding kerja dahulu.

Karena apapun alasannya, di masa depan, lulus kuliah menjadi syarat utama.
Syarat utama masuk kerja.

Syarat utama mau nikah.

Syarat utama kalau besok setelah menikah anaknya bertanya: bapak lulusan apa?

Wisuda kali ini memang beda.

Anakku yang dulu sedari kecil suaranya melengking tinggi, sekarang sudah tidak lagi.

Anakku yang dulu sedari kecil mau menang sendiri, sekarang sudah tidak lagi.
Anakku yang dulu sedari kecil senangnya nyedot umbel, sekarang sudah tidak lagi



Lalu...
Anakku yang dulu sedari kecil sukanya memecahkan gelas, sekarang masih juga

Anakku yang dulu sedari kecil sukanya menggambar, sekarang masih juga

Anakku yang dulu sedari kecil sukanya berteman, sekarang masih juga


Anak memang menjadi bagian utuh sebuah keluarga.

Setelahnya ? Entahlah...

Dia pasti bekerja, berkeluarga sebagai sebuah kehidupan nyata

Bisa tetap didalam kota ataupun di luar kota

Semua harus direstui dan di ijabahi

Selamat anakku
doa ayah dan ibu selalu menyertaimu


JOKO WiN







Selasa, Januari 18, 2011

baru

tahun 2011.
setelah sekian lama blog tidak diisi.
apa yang harus dilakukan?

Rabu, Oktober 14, 2009

LEBARAN 2009 : Perjalanan Panjang

Tiap lebaran kami jalani dengan sesuatu yang berbeda.
Lebaran 2009 kami jalani dengan perjalanan yang sangat panjang.

Hari pertama, Minggu, 19 September 2009
Hari pertama lebaran kami ada di Singosari. Berjabat tangan dengan para tetangga yang lebih sepuh. Kami juga kedatangan tamu tamu untuk bermaaf-maafan. Adajuga anaka anak kecil yang berdatangan. Dan ada sekumpulan anak muda berjumlah 50 orang. Semua datang bersamaan. Ramainya nggak bisa dibayangkan. Baru pulang setelah ada ‘galak gampil’ yakni uang saku yang diberikan. Semua anak amnak kecil saya beri masing masing 2.000 rupiah edisi uang terbaru yang baru saja dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan semua anak muda masing masing saya ‘galak gampili’ masing masing 5.000 an saja. Maklum jumlahnya mencapai 50 orang. Yang penting hepppi hepppi aja. Bukan uangnya, tapi besaran rupiahnya hehehehe…
Hari itu kami ke saudara di Malang untuk berjabat tangan.
Perjalanan hari pertama sejauh 30 km saja.

Hari kedua, Senin, 20 September 2009
Saya sekeluarga jam 8 pagi ke Madiun tempat orang tua dan mertua bertempat tinggal. Perjalanan seperti biasanya, padat merayap. Kami lewat Singosari, Malang, Batu, Pujon, Kediri, Nganjuk trus Madiun. Sengaja lewat nganjuk agar terhindar dari kemacetan. Di Nggringging Kediri mampir ke rumah mertuanya keponakan. Biasa bermaaf maafan…
Sampai di Madiun jam 14.30 langsung kerumah mertua. Sungkem taklim.
Mendekati maghrib ke rumah orang tua. Sungkem juga. Menghilangkan dosa.
Kami tempuh perjalanan sejauh 200 km

Hari ketiga, Selasa, 21 September 2009
Ke Pucang tempat bu dhe Yam. Sungkem juga.
Siangnya ke Ponorogo. Ketempat saudara saudara. Sungkem juga.
Sorenya baru balik ke Madiun
Kami tempuh perjalanan sejauh 70 km

Hari keempat, Rabu, 22 September 2009
Ada acara Trah eyang Soeleman Hardjosudarmo. Pertemuan rutin lebaran yang tempatnya berpindah pindah setiap tahunnya. Kali ini di Mojokerto. Perjalanan nan panjang dan udara yang panas kami tempuh. Berangkat jam 8 pagi dengan rute Madiun, Nganjuk, Kertosono, Jombang sampai di Mojokerto jam 12 siang. Acara sukses, Halal bihalal berlangsung meriah. Ada keluarga baru. Ada keponakan baru. Ada juga yang mulai kerja. Ada juga yang mulai pensiun. Jam 14.30 pulang ke Madiun lagi. Padahal Mojokerto ke Singosari Malang tinggal selangkah saja. Kami harus ke Madiun lagi karena ada acara yang masih harus dilesaikan. Jam 18.30 sampai di Madiun. Perjalanan lancar. Tapi sepanjang jalan kami melihat arah sebaliknya yakni arah Caruban ( Madiun) ke Jombang, macet total dengan masing masing 2 kendaraan berjajar. Jadi kira kira 60 km macet. Kendaraan mengular. Harusnya masuk dalam buku Guinnes book of record tentang mudik lebaran. Hal ini terjadi karena esok harinya masuk kerja hari pertama bagi yang nggak cuti.
Hari ini kami tempuh perjalan 200 km.

Hari kelima, Kamis, 23 September 2009
Ini hari yang istimewa. Isteri saya reuni dengan teman SD nya setelah 35 tahun pisahan sejak lulus sekolah. Acaranya mulai jam 10 pagi sampai jam 1 siang. Jam 2 siang kami sekeluarga pergi ke Jogja. Sebuah kota yang setiap tahun saya kunjungi. Eksotisme Jogja mampu membawa magnet besar yang setiap lebaran pasti kami datangi. Diperjalanan kami mampir ke Solo tempat saudara ada disana. Perjalanan Madiun, Ngawi, Sragen, Solo, Klaten dan Jogja kami tempuh dengan gembira. Anakku Ninar yang selalu membanggakan ramut kriwulnya menyetir dengan suka cita. Saya hanya mendampingi disampingnya tanpa berani tidur, agar dia juga enjoy nyetirnya. Di Kota Klaten, kami mampir makan malam khusus nasi uduk bakar. Nikmatnya tak tertahankan.
Jam 10 malam kami nyampi di Jogja tempat kakak bertempat tinggal
Perjalanan kali ini sepanjang 200 km.

Hari keenam, Jumat, 24 September 2009
Acara liburan pagi jadi kacau. Boster mobil ‘hang dan lemot’ alias mobil gak bisa untuk nge-rem. Terpaksa servis agar perjalanan jadi selamat. Anak anak keluyuran ke antero Jogja, saya dan isteri sore harinya menikmati nikmatnya ronde di alun alun jogja sambil ketemu teman SD dari isteri yang kemarin ketemu bersama di Madiun. Teman yang sekarang kerja di Pekanbaru, betul betul menikmati aura malam kota Jogja. Lesehan, minum ronde, makan jagung bakar, menikmati hiburan lagu lagu dengan alat akustik dari anak anak muda khas Jogja. Diselingi suara mercon dan kembang api di alun alun.
Malam yang menyenangkan.
Perjalanan sepanjang 50 km saja.

Hari ketujuh, Sabtu, 25 September 2009
Saya dan Isteri bertemu sebentar dengan pelanggan yang akan bekerjasama dalam pengembangan alat bantu pengajaran. Trus acara dilanjutkan dengan makan siang bersama di rumah makan terbaru ‘mBah Jingkrak’. Awalnya saya sudah pesimis, sebab saya punya pengalaman ‘bad taste’ dengan mBah Jingkrak yang di Madiun. Ternyata yang di Jogja memang berhati Nyam Nyam. Makanannya ‘delicious taste’. Semuanya perfecto. Enaaaaakkkkk tenannnnn.
Malamnya kami ber 14 orang makan di Bakmi Kadin yang udah kesohor itu. Angkringan yang biasanya 4 buah, khusus lebaran menjadi 7 buah angkring. Ramainya gak ketulungan. Bakmi datang, beredar terus kami sambar. Padahal, rasanya biasa saja. Tapi koq ramai yha.
Orang Marketing bilang Brand Bakmi Kadin sudah menjadi Mind Top Brand artinya di benak piran kebanyakan orang Jogja, itulah bakmi dengan rasa terhebat, sekalian mengenang memory in the past, kenangan masa lalu. Disisi lain membuat para pendatang menjadi muncul semacam keinginan untuk mencobanya.
Hari ini, kami menempuh perjalanan 25 km saja.

Hari kedelapan, Minggu 26 September 2009.
Kami mengawali dari jam 7.30 pagi meninggalkan Jogjakarta dengan banyak kenangan. Dari rumah Mas Bambang yang katanya mulai bulan Oktober sudah purna tugas dengan sempurna. Perjalanan menyusuri Klaten dengan membeli … khas …Suronatan?, Solo, Sragen, Ngawi, Caruban dengan makan siang di rumah makan langganan kami, Orient Tarzan Restaurant.
Biasanya, selama ini sotonya enak banget. Tumben siang itu rasanya agak beda. Padahal siang itu, banyak banget yang mampir baik orang lokal maupun bule-bule yang akan ke gunung bromo. Semoga Mas Tarzan sekali waktu mau mencicipi kembali taste of soto-nya. Harus delicious lagi Mas…
Perjalanan berlanjut ke Kediri, Blitar dengan mampir di Om, terus ke Wlingi mampir di Bu Puh Tugi, terus ke Kesamben di banyak saudara untuk bersungkem ria.
Perjalanan diteruskan ke Kepanjen, Malang dan makan malam di Bakso Gun yang sangat terkenal kelezatannya karena kuahnya selalu panas sampai tetes terakhir.
Lalu ?
Perjalan diteruskan sampai kerumah di Singosari. Masuk dirumah jam 9 malam. Perjalanan hari itu selama 13 jam dengan jarak tempuh 350 km.
Jadi total perjalanan selama pergi saat lebaran adalah sejauh 1.125 Km dengan kami setir bergantian bertiga. Aku, Koko anak pertama, Ninar anak kedua. Sedangkan Isteri dan Bagus anak ketiga selalu setia mensuplai makanan sebagai tambahan tenaga selama perjalanan dilaksanakan.
Sampai dirumah, mandi keramas air hangat, tidur nyenyak. Pulas.
Home sweet home


Joko WiN
Lebaran 2009